Bab · Bagian 1 dari 3
Bisnis Terlihat Hidup, Owner Kehabisan Napas
Pukul sembilan malam, Rani mematikan lampu tokonya satu per satu. Yang belum bisa ia matikan justru hitungan di kepalanya.
Hari itu pesanan nyaris tidak berhenti. Ada warung ayam yang meminta tambahan kotak makan, pelanggan katering yang buru-buru mencari gelas, dan penjual minuman yang mengirim pesan tiga kali karena takut stok tutup cup habis. Dua karyawannya sampai bergantian makan siang. Di grup keluarga, seseorang mengomentari foto tumpukan paket: “Wah, makin sukses aja!”
Rani membalas dengan emoji tersenyum. Beberapa jam kemudian, di depan aplikasi bank, ia sama sekali tidak tersenyum.
Saldonya tinggal Rp4.000.000.
Rani dan Toko Kemas adalah ilustrasi fiktif. Begitu pula semua tokoh, usaha, dan transaksi dalam buku ini. Ceritanya dibuat untuk membantu kita memeriksa angka, bukan untuk mengaku sebagai pengalaman nyata atau menjanjikan hasil yang sama.
Rani menjual kemasan makanan: kotak, kantong, gelas, dan perlengkapan yang dibutuhkan usaha kuliner. Produknya tidak kelihatan mewah, tetapi hampir setiap hari ada yang membelinya. Ia hafal pelanggan yang suka memesan mendadak. Ia tahu ukuran kotak yang paling cepat habis. Ia bahkan bisa menebak siapa yang sedang mengadakan acara hanya dari jumlah gelas yang dipesan.
Namun ada satu hal yang tidak ia hafal: berapa uang yang sebenarnya boleh dipakai.
Ia membuka percakapan dengan pemasok. Ada penawaran barang untuk pengiriman berikutnya yang harus dibayar sebelum berangkat. Ia menghitung gaji dan sewa untuk periode berikutnya. Lalu muncul pesan dari rumah: belanja mingguan sudah habis, beberapa kebutuhan anak harus dibayar.
Semua kebutuhan itu masuk akal. Persoalannya, mereka seperti sepakat mengetuk pintu rekening yang sama.
Rani merasa seharusnya punya lebih banyak uang. Sepanjang bulan, nilai barang yang sudah diserahkan kepada pelanggan mencapai Rp60.000.000. Angka itu ia dapat dari nota, bukan sekadar perasaan. Bukankah itu berarti usahanya sedang bagus?
Ia menggulir mutasi rekening. Pembayaran pelanggan masuk, lalu keluar lagi untuk pembelian barang. Ada ongkir pengantaran. Ada gaji. Ada listrik. Ada transfer ke rekening pribadi. Beberapa pelanggan belum melunasi pembelian meskipun barangnya sudah dipakai berjualan.
Uang memang masuk. Yang sulit dijelaskan adalah mengapa selalu terasa cuma lewat.
Malam itu Rani hampir mengambil keputusan yang kelihatannya paling cepat: besok harus jualan lebih banyak. Ia mulai membayangkan promo. Beli banyak, harga lebih murah. Gratis antar untuk pelanggan tertentu. Mungkin sekalian menambah iklan supaya lebih ramai.
Lalu ia berhenti pada satu pikiran yang membuatnya tidak nyaman.
Kalau jualan sebanyak ini saja uangnya seret, apakah menambah penjualan pasti akan memperbaikinya?
Pertanyaan itu penting. Bukan karena promosi pasti salah. Bukan juga karena berkembang selalu berbahaya. Rani hanya belum tahu bagian mana yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Ia hendak menekan pedal gas sebelum tahu apakah mobilnya kekurangan bahan bakar, salah arah, atau membawa beban yang tidak terlihat.
Kita sering berada di posisi yang mirip. Pelanggan bisa kita lihat. Paket bisa kita hitung. Antrean bisa difoto. Tetapi uang yang tertahan di tagihan, biaya yang belum masuk perhitungan, dan stok yang terlalu lama diam tidak selalu menimbulkan suara.
Akibatnya, yang paling terlihat sering kita anggap paling penting.
Kalau toko sepi, kita cemas. Kalau toko ramai, kita berharap semuanya baik-baik saja. Padahal kata “ramai” baru menjelaskan aktivitas. Belum menjelaskan hasilnya.
Rani kemudian mencoba jalan lain: mencari siapa yang membuat uangnya berkurang. Apakah ia terlalu sering mengambil uang? Apakah harga jualnya kemurahan? Apakah ada barang keluar tanpa tercatat? Apakah karyawannya melakukan kesalahan?
Semua itu boleh menjadi pertanyaan. Belum boleh menjadi putusan.
Saldo Rp4.000.000 adalah sesuatu yang terlihat. Penyebab saldo menjadi Rp4.000.000 masih harus ditelusuri. Kita tidak perlu memilih tersangka sebelum mengumpulkan transaksi.
Bayangkan dokter yang baru mendengar “saya pusing” lalu langsung menyuruh pasien mengganti pekerjaan. Bisa saja sumber masalahnya memang pekerjaan. Bisa juga pasien belum makan. Dalam urusan usaha, keputusan yang terlalu cepat bisa sama melesetnya: pelanggan diberi diskon padahal masalahnya penagihan, karyawan dipangkas padahal masalahnya stok berlebihan, atau harga dinaikkan padahal ada pembayaran yang belum dicatat.
Malam itu Rani tidak membutuhkan slogan agar lebih semangat. Ia sudah cukup semangat sampai lupa makan siang. Yang ia perlukan adalah cara membuat cerita uangnya tersambung.
Ia mengambil kertas bekas nota dan menulis tiga kalimat.
Barang yang sudah saya serahkan kepada pelanggan bulan ini.
Uang yang benar-benar sudah saya terima bulan ini.
Uang yang sudah saya keluarkan bulan ini.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menggabungkan ketiganya menjadi satu kata: penghasilan.
Kertas itu belum menjadi laporan keuangan. Belum ada rumus yang membuatnya terlihat pintar. Tetapi di sanalah pemeriksaan dimulai: dengan mengakui bahwa tiga kalimat tersebut mungkin punya jawaban berbeda.
Kamu juga bisa memulai tanpa mengingat seluruh transaksi setahun. Pilih satu hari yang sudah selesai atau satu minggu terakhir. Cari tiga bukti: nota penjualan, bukti penerimaan uang, dan satu pembayaran usaha. Perhatikan apakah tanggalnya sama. Perhatikan apakah nilainya sama. Perhatikan apakah barang yang dibeli sudah terjual atau masih ada.
Kalau catatanmu berantakan, jangan menjadikan itu alasan untuk menghakimi diri sendiri. Kita sedang mencari titik awal, bukan menilai kelayakanmu sebagai pengusaha. Sebuah usaha bisa tumbuh lebih cepat daripada kebiasaan pencatatannya. Sekarang kebiasaan itu perlu menyusul.
Ceritakan satu kejadian ketika usahamu terlihat ramai tetapi kamu kesulitan membayar sesuatu. Tuliskan apa yang perlu dibayar, kapan jatuh temponya, dan uang dari mana yang saat itu kamu harapkan. Belum tahu angkanya? Mulai dari nama transaksinya.
Jawaban disimpan hanya di browser ini. Boleh diisi nanti.
Untuk latihan dalam buku ini, angka sensitif boleh dibulatkan. Gunakan kode pelanggan, bukan identitas lengkap. Tidak perlu memasukkan nomor rekening, kata sandi, atau data rahasia ke fitur digital. Bukti dan rincian lengkap boleh tetap kamu simpan secara pribadi.
Ada kemungkinan setelah diperiksa kamu menemukan pengambilan pribadi yang terlalu besar. Ada kemungkinan harga jual memang tidak cukup. Ada juga kemungkinan usahamu menghasilkan laba, tetapi uangnya sedang tersangkut di tempat lain. Kita akan memberi masing-masing kemungkinan tempat yang berbeda, karena perbaikannya berbeda.
Rani belum tahu apakah Rp4.000.000 itu pertanda usahanya gagal. Ia hanya tahu rasa lelahnya tidak bisa dipakai untuk menghitung keuntungan.
Di atas kertas, ia menggarisbawahi tiga kalimat tadi. Besok tokonya akan kembali buka. Pelanggan akan kembali bertanya stok. Pemasok akan kembali menawarkan harga. Untuk menjawab semuanya dengan lebih tenang, ia harus membereskan satu pertanyaan lebih dulu.
Yang kamu lihat setiap hari itu penjualan, keuntungan, atau sekadar uang yang sedang lewat?