Alarm berbunyi. Tangan meraba HP sebelum mata benar-benar terbuka. Ada pesan kerja yang belum dibalas. Ada notifikasi. Ada tagihan. Ada target yang belum selesai. Ada satu dua unggahan orang lain yang kelihatannya hidupnya jauh lebih rapi daripada hidup kita.
Kita bangun, mandi, berangkat, bekerja, mengejar sesuatu, pulang dalam keadaan capek, lalu menenangkan diri dengan layar kecil di tangan. Kadang sampai tertidur sambil menggenggam HP.
Besok, pola yang sama dimulai lagi.
Kalau sedang beruntung, ada kabar baik. Gaji naik. Klien masuk. Bisnis tumbuh. Barang yang sudah lama diinginkan akhirnya terbeli. Foto baru diunggah. Orang-orang memberi ucapan selamat.
Tapi anehnya, rasa senang itu sering nggak tinggal lama.
Beberapa minggu kemudian, angka baru terasa biasa. Barang baru menjadi benda biasa. Pujian orang perlahan hilang dari kepala. Target yang kemarin terasa besar sudah digantikan target berikutnya.
Lalu muncul satu perasaan yang sulit dijelaskan: hidup sebenarnya berjalan, tetapi hati seperti tertinggal di suatu tempat.
Kita nggak selalu sedih. Kita juga nggak selalu punya masalah besar. Dari luar, semuanya bahkan mungkin terlihat baik-baik saja.
Tapi saat rumah mulai sepi, layar dimatikan, dan nggak ada lagi yang harus dikejar beberapa menit ke depan, muncul pertanyaan yang selama ini tertutup oleh kesibukan:
Sebenarnya saya sedang mengejar apa?
Dan kalau semua yang saya kejar akhirnya saya dapatkan, apakah hati saya benar-benar akan merasa cukup?
Buku ini tidak akan meminta kamu membenci dunia. Tidak akan menyuruhmu berhenti bekerja, meninggalkan ambisi, atau merasa bersalah karena ingin punya hidup yang lebih baik.
Mungkin kita memang perlu bekerja lebih giat. Mungkin kita memang perlu menaikkan penghasilan. Mungkin ada mimpi yang layak diperjuangkan.
Tapi ada satu hal yang perlu diperiksa sebelum kita berlari lebih jauh: jangan-jangan yang kita kira kekurangan pencapaian sebenarnya adalah kekurangan arah.
Karena manusia bisa sangat sibuk menuju sesuatu, lalu baru sadar bertahun-tahun kemudian bahwa ia tidak pernah benar-benar bertanya: ke mana hidup ini sedang dibawa?
Dan mungkin, rasa kosong itu bukan permintaan untuk memiliki lebih banyak.
Mungkin itu adalah undangan untuk pulang.