Bab · Bagian 1 dari 3
Kursi yang Tidak Lagi Sama
Hari pertama kelas XII dimulai dengan bunyi kaki meja yang diseret ke mana-mana.
Naya Prameswari berdiri di ambang pintu kelas sambil memegang botol minum dan selembar kertas pembagian tempat duduk. Di kelas XI, ia selalu duduk di baris kedua dekat jendela, tepat di belakang Raka Mahendra dan di samping Sinta. Dari tempat itu ia bisa melihat lapangan basket, pohon ketapang, dan atap kantin yang bocor setiap hujan besar.
Sekarang namanya ada di baris keempat.
Jauh dari jendela.
Jauh dari Sinta.
Dan, yang paling mengganggu meski ia tidak mau mengakuinya, jauh dari Raka.
"Kenapa mukamu kayak baru lihat hasil UTBK padahal UTBK masih lama?" Bima menyelip di sampingnya, tas ranselnya terbuka dan satu tali sepatunya tidak terikat.
Naya mengangkat kertas. "Tempat duduk diacak."
"Ya terus? Ini bukan perceraian orang tua."
"Aku nggak bilang apa-apa."
"Mukamu bilang banyak."
Bima terkekeh lalu masuk, mencari namanya sendiri. Di depan kelas, Raka sudah duduk di kursi baru dekat pintu. Ia sedang membantu Farrel menempel jadwal piket yang miring. Ketika melihat Naya, Raka mengangkat dagu kecil-kecil seperti biasa.
"Pagi."
"Pagi."
Cuma itu.
Aneh sekali bagaimana satu kata yang sama bisa terdengar berbeda hanya karena jarak beberapa meter.
Wali kelas mereka, Pak Danu, masuk beberapa menit kemudian membawa setumpuk formulir. Belum ada pembukaan panjang. Belum ada nasihat klasik tentang menjadi angkatan tertua. Ia langsung membagikan satu lembar kepada setiap siswa.
Di bagian atas tertulis: RENCANA SETELAH LULUS.
Ada beberapa kotak pilihan: kuliah, bekerja, sekolah kedinasan, kursus, usaha, lainnya.
Di bawahnya ada kolom yang jauh lebih mengintimidasi.
TULISKAN TIGA PILIHAN KAMPUS/JURUSAN ATAU RENCANA UTAMA KALIAN.
Kelas yang tadi berisik mendadak berubah seperti volume televisi yang diturunkan.
Naya memutar pulpen di antara jari.
Selama kelas XI, mereka sering membicarakan masa depan seolah masa depan adalah tempat wisata yang pasti bisa didatangi kalau cukup menabung. Sinta ingin kedokteran. Raka pernah menyebut teknik informatika. Farrel mau kuliah apa saja yang membuatnya bisa bekerja di industri film. Bima selalu menjawab, "Yang penting nggak nganggur," lalu tertawa paling keras.
Naya sendiri pernah menulis arsitektur di belakang buku matematika, lalu menggambar rumah kecil dengan banyak jendela.
Hari itu, ketika harus menuliskannya di formulir resmi sekolah, tangannya berhenti.
Ia teringat ibunya menghitung uang belanja di meja makan dua malam sebelumnya. Tiga lembar seratus ribu dipisahkan untuk listrik, dua lembar untuk tagihan supplier warung, sisanya dimasukkan kembali ke kaleng biskuit.
"Kalian tidak harus sudah punya semua jawaban," kata Pak Danu dari depan. "Tapi kelas XII akan lebih cepat dari yang kalian kira. Mulai sekarang, pilihan kecil kalian akan terasa lebih nyata."
Sinta menoleh dari baris depan dan mengangkat tiga jari, kode lama mereka untuk bertanya: nanti ngobrol?
Naya mengangguk.
Raka tidak menoleh sama sekali.
Jam istirahat, lima orang itu berkumpul di belakang perpustakaan. Itu tempat favorit mereka sejak kelas X: ada bangku semen yang retak, pohon mangga yang tidak pernah berbuah, dan tembok rendah tempat Bima biasa duduk meski sudah berkali-kali dilarang satpam.
Farrel membaca formulirnya keras-keras. "Pilihan satu: DKV. Pilihan dua: film. Pilihan tiga: kabur ke Korea jadi figuran."
"Pilihan tiga harus realistis," kata Sinta.
"Makanya aku tulis figuran, bukan aktor utama."
Bima menyambar formulir Farrel. "Gue sih kerja dulu mungkin."
Kali ini ia tidak tertawa.
Mereka semua menoleh.
"Serius?" tanya Raka.
Bima mengangkat bahu. "Bokap lagi sepi order bengkel. Adik gue tahun depan masuk SMA. Lihat nanti lah."
Ada jeda kecil. Jeda itu tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat Naya sadar bahwa selama libur kenaikan kelas, sesuatu memang terjadi pada masing-masing orang tanpa mereka ceritakan di grup.
Sinta menggaruk ujung formulirnya dengan kuku. "Orang tuaku mau aku tetap ambil kedokteran."
"Bukannya itu memang maumu?" tanya Naya.
Sinta tidak langsung menjawab. "Dulu iya."
Sekali lagi, sunyi.
Farrel menepuk lutut. "Oke, suasana hari pertama terlalu berat. Raka, selamatkan. Kamu masih informatika, kan?"
Raka tersenyum tipis. "Mungkin."
"Mungkin?" Naya refleks bertanya.
Raka memandangnya sebentar. "Ada kemungkinan pindah."
"Pindah kampus?"
"Pindah kota. Sebelum lulus mungkin."
Angin menggesek daun mangga di atas mereka.
Naya ingin bertanya ke mana, kenapa, kapan, sejak kapan. Tapi bel masuk berbunyi terlalu cepat.
"Nanti gue cerita," kata Raka.
Mereka beranjak. Naya menahan langkah, memasukkan formulir ke dalam buku catatannya. Saat itulah selembar kertas kecil jatuh dari sela halaman.
Kertas itu sudah kusut di bagian lipatan.
Tulisan tangan lima orang memenuhi permukaannya.
JANJI ANGKATAN KITA — kelas X, selesai MOS.
1. Lulus bareng.
2. Foto di tempat ini sebelum perpisahan.
3. Habis pengumuman kelulusan, jalan ke pantai sebelum semua orang sibuk.
4. Jangan ada yang menghilang dari grup.
Di bawahnya, Bima pernah menambahkan dengan tinta merah: SIAPA PUN YANG PERGI DULUAN TRAKTIR.
Naya membacanya dua kali.
Lalu memasukkan kertas itu lagi ke buku.
Mereka masih berada di kelas yang sama. Masih berjalan menuju ruangan yang sama. Masih punya grup chat yang sama.
Tetapi untuk pertama kalinya, Naya merasa lima orang itu tidak lagi sedang menuju tempat yang sama.
Malamnya, pukul 22.47, grup chat mereka berbunyi.
Raka mengirim satu foto.
Bukan foto wajahnya.
Foto sebuah tiket pesawat digital dengan sebagian detail ditutup coretan hitam.
Tujuan yang masih terlihat hanya satu kata.
SURABAYA.
Lalu pesan di bawahnya:
Belum pasti. Jangan heboh dulu.
Naya menatap layar lebih lama daripada yang seharusnya.
Di atas meja belajarnya, formulir RENCANA SETELAH LULUS masih kosong.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya takut: seseorang pergi lebih cepat dari rencana, atau dirinya sendiri yang ternyata belum punya rencana sama sekali.