← bacavia Cuplikan gratis
Bagikan & dapat komisi

Rekomendasikan buku ini ke temanmu lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya.

Masuk untuk mendapatkan link referral Komisi 10% dari dasar pembagian penjualan setelah biaya pembayaran. Link permanen; referensi per buku tidak kedaluwarsa setelah tersimpan ke akun pembeli. Klik terakhir sebelum pesanan dibuat yang berlaku. Pembelian sendiri tidak menghasilkan komisi. Untuk pembeli yang belum masuk, referensi mengikuti browser yang digunakan sampai tersimpan ke akun.

Gratis · Suara perangkat · Membaca bagian yang terbuka.

Domino Terakhir Sang Raja

Bab · Bagian 1 dari 5

BAB 1 — Batu Pertama

Dari halaman 1 · Baca dengan ritmemu

Sebelum dunia memanggilnya Raja Domino, Danang hanyalah anak kurus dari Bagik Polak yang terlalu sering pulang dengan lutut kotor dan sandal putus.

Rumahnya berdiri di gang sempit yang kalau hujan berubah menjadi jalur air cokelat. Ayahnya bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Kadang membantu bongkar muat, kadang ikut orang mengantar bahan bangunan, kadang pulang membawa dua kantong beras, kadang hanya membawa cerita bahwa besok mungkin ada pekerjaan.

Ibunya menjahit permak pakaian tetangga di dekat jendela. Mesin jahit tua itu berbunyi tak-tak-tak hampir setiap malam, seperti ada jam kecil yang terus mengingatkan Danang bahwa hidup mereka bergerak karena seseorang memilih untuk tidak berhenti.

Danang tidak pernah merasa dirinya miskin sampai ia mulai ingin sesuatu yang tidak bisa dibeli ibunya.

Bukan sepatu.

Bukan telepon.

Bukan sepeda baru.

Ia ingin menang.

Keinginan itu muncul pada suatu malam di Perumahan Melanesia, ketika lampu taman menyinari meja plastik yang dikelilingi orang dewasa dengan kopi hitam, rokok, kacang rebus, dan suara batu domino yang dipukulkan ke meja.

Tak.

Suara itu pendek, tetapi membuat kepala Danang menoleh.

Tak.

Orang-orang tertawa.

Tak.

Seseorang mengumpat karena jalurnya tertutup.

Danang yang waktu itu baru berusia tiga belas tahun berdiri di belakang kursi Paman Gede Mustike. Ia semula datang hanya karena disuruh ibunya mengantar termos teh.

Namun setelah sepuluh menit, ia lupa pulang.

Paman Gede memegang tujuh batu. Wajahnya biasa saja, bahkan sedikit bosan. Di depannya, seorang pria berkumis bernama Pak Hendra terus berbicara seolah suara keras bisa mengubah angka di tangan orang lain.

“Sudah habis kau malam ini, Gede.”

Paman Gede menguap.

Pak Hendra menurunkan 6-4 di ujung enam.

Danang melihat tangan Paman Gede bergerak ke arah 6-6, lalu berhenti.

Paman Gede justru memainkan 4-1 di ujung empat.

Danang mengernyit.

Bahkan anak yang baru belajar mengenali pola titik pun bisa melihat 6-6 adalah batu besar. Mengapa tidak dibuang sekarang?

Dua putaran kemudian, Pak Hendra terpaksa membuka enam lagi.

Barulah Paman Gede menaruh 6-6.

Tak.

“Kenapa tadi tidak langsung?” bisik Danang.

Paman Gede tidak menjawab. Ia menatap Pak Hendra yang sekarang menggigit bibir sambil memeriksa batu di tangannya.

Tiga putaran setelah itu, permainan buntu.

Pak Hendra masih memegang tiga batu dengan total pip tinggi. Paman Gede hanya memegang satu batu kecil.

“Menang Gede!” teriak seseorang.

Pak Hendra protes setengah bercanda. “Ini orang mainnya kayak tukang santet. Nggak kelihatan kerjanya, tahu-tahu orang susah.”

Tawa pecah.

Paman Gede menoleh kepada Danang.

“Kau tadi tanya kenapa enam-enam tidak langsung dibuang?”

Danang mengangguk.

“Karena batu bagus tidak selalu bagus dimainkan sekarang.”

“Terus tahu dari mana enam akan dibuka lagi?”

Paman Gede menunjuk Pak Hendra dengan dagunya. “Dia terlalu senang waktu lihat angka enam pertama keluar.”

Pak Hendra mendengar. “Eh, jangan ngajari bocah baca muka orang. Nanti besar jadi tukang utang.”

Tawa pecah lagi.

Paman Gede tidak ikut tertawa. Ia mengambil satu batu, membaliknya, lalu meletakkannya di telapak Danang.

Itu 5-2.

“Kalau mau jadi pemain hebat, jangan cuma lihat batu di meja. Lihat orang yang memegangnya.”

Danang memandangi batu itu seperti seseorang baru saja menyerahkan peta harta karun.

Malam itu ia pulang terlambat.

Ibunya menunggu di depan rumah dengan tangan bersedekap.

“Termosnya?”

Danang berhenti.

Termos itu masih di Perumahan Melanesia.

Ibunya menutup mata.

“Astaga, Danang.”

“Besok saya ambil.”

“Kalau tehnya?”

Danang menelan ludah.

Ibunya menatap wajah anaknya yang tampak bersalah, lalu entah kenapa tertawa.

“Menang siapa?”

“Paman Gede.”

“Terus kau dapat apa?”

Danang membuka telapak tangan. Batu 5-2 masih ada di sana.

Ibunya menghela napas. “Kau menghilangkan termos, pulang bawa batu.”

Danang tersenyum.

Ia belum tahu bahwa puluhan tahun kemudian, batu kecil itu akan tetap tersimpan di dompetnya.

Ia juga belum tahu bahwa suatu hari, di arena terbesar yang pernah ia masuki, seluruh hidupnya akan menyempit menjadi satu batu terakhir di tangannya.

Tetapi malam itu, ia cuma memikirkan satu hal.

Besok ia ingin kembali ke meja.

Daftar isi

Domino Terakhir Sang Raja

Lanjutkan membaca semua bab di buku lengkap.

Buka Bab Lainnya

Nyaman menurutmu

Warna halaman

Pengaturan disimpan di browser ini.

Stabilo & Catatan

Catatan disimpan di browser ini. Gunakan akun sebelum membuat catatan yang ingin kamu akses di perangkat lain.

Catatan pada stabilo