Bab · Bagian 1 dari 3
Suara Sendok di Gelas
"Jangan bergerak."
Aku berhenti mengaduk kopi karena Damar mengangkat telunjuk dari seberang meja makan, wajahnya serius seperti orang yang sedang menjinakkan bom.
"Kenapa?"
"Ulangi."
"Ulangi apa?"
"Ngaduknya. Tadi bagus."
Aku menatapnya beberapa detik, lalu menatap ponsel yang ia letakkan di antara toples kerupuk dan botol sambal. Layar ponsel itu menampilkan garis-garis suara yang naik turun.
"Kamu bangun jam enam pagi cuma buat rekam suara sendok?"
"Ini bukan suara sendok. Ini ambience rumah."
"Ini sendok, Mar."
"Kak Naya memang nggak punya jiwa seni."
"Kak Naya punya jiwa pengin kerja tepat waktu."
Damar mendesah panjang, lalu mengambil ponselnya. Rambutnya masih acak-acakan. Kaosnya bertuliskan JANGAN AJAK BICARA SEBELUM KOPI, padahal selama lima menit terakhir dia yang paling banyak bicara.
Dari dapur, Ibu berteriak, "Damar, jangan lupa nanti ambil gas!"
Damar langsung mengarahkan ponsel ke dapur.
"Nah. Dengar itu. Natural."
Aku melempar tisu ke kepalanya.
"Kalau suara Ibu dimasukin tugas kampus, minimal bayar royalti."
Ibu muncul sambil membawa piring berisi tempe goreng. Celemek bunganya miring. "Royalti apa? Ambil gas aja sampai tiga hari belum."
"Itu karakter development, Bu. Anak laki-laki yang belajar tanggung jawab secara perlahan."
"Perlahan sampai tabungnya kosong."
Aku tertawa. Damar ikut tertawa paling keras, seperti biasa. Ibu menggeleng, tetapi ujung bibirnya ikut terangkat.
Pagi di rumah kami memang sering dimulai seperti itu. Tidak pernah benar-benar tenang. Ada suara blender, suara Ibu memanggil dari dapur, motor tetangga yang knalpotnya seperti sedang berperang, notifikasi ponselku, dan Damar yang entah kenapa punya energi untuk mengomentari semuanya.
Enam tahun sejak Bapak meninggal, rumah itu masih punya tiga penghuni dan terlalu banyak suara.
Aku belum tahu waktu itu bahwa suatu hari aku akan hafal bunyi-bunyi kecil tersebut seperti orang menghafal doa.
Damar memutar hasil rekamannya. Terdengar denting sendokku, suara hujan tipis di kanopi belakang, Ibu memanggil soal gas, lalu tawaku yang pendek.
"Jelek," kataku.
"Bagus."
"Suara aku kayak bebek."
"Itu justru nilai artistiknya."
Aku hendak merebut ponselnya, tapi ia cepat-cepat berdiri dan mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Jangan hapus!"
"Buat apa sih semua beginian? Storage kamu nggak penuh?"
"Udah aku pindahin ke laptop. Ada folder khusus."
"Namanya?"
Damar tersenyum bangga. "Suara Rumah."
Aku tertawa sampai hampir tersedak kopi.
"Serius?"
"Serius."
"Kamu kuliah DKV apa jadi petugas intel lingkungan?"
"Suatu hari folder itu mahal."
"Siapa yang mau beli suara Ibu nyuruh ambil gas?"
"Kamu."
"Aku?"
Ia kembali duduk. Kali ini senyumnya lebih kecil.
"Kalau nanti aku nggak ada, kamu pasti kangen aku berisik."
Aku mendengus.
"Pede banget. Kalau kamu nggak ada, rumah akhirnya damai."
"Nah, tuh. Direkam juga. Bukti kekerasan verbal kakak terhadap adik."
"Sana ambil gas."
"Jam delapan tokonya buka."
"Sekarang jam delapan lewat dua belas."
Damar melihat jam dinding, lalu berdiri secepat orang yang baru teringat ujian.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?"
"Karena kamu sibuk merekam sendok."
Ia berlari ke kamar. Ibu dari dapur mengucapkan sesuatu tentang anak laki-laki dan otaknya yang tertinggal di bantal. Aku membuka laptop, mencoba masuk ke rapat pagi, masih tersenyum sendiri.
Sebelum pintu depan menutup, kepala Damar muncul lagi.
"Kak!"
"Apa?"
"Serius, jangan hapus folder Suara Rumah kalau nemu di laptopku."
"Iya, Yang Mulia Seniman."
"Janji?"
Aku mengangkat tiga jari tanpa menatapnya. "Janji."
"Oke."
Pintu tertutup.
Lima detik kemudian terbuka lagi.
"Dompetku di mana?"
Aku menutup mata.
Begitulah Damar.
Sulit sekali menganggap serius kalimat dari seseorang yang bahkan tidak bisa pergi membeli gas tanpa kembali dua kali karena lupa dompet dan kunci motor.
Hari itu aku tidak bertanya kenapa ia begitu ingin menyimpan suara-suara rumah.
Aku juga tidak bertanya kenapa, selama beberapa minggu terakhir, ia lebih sering duduk setelah naik tangga menuju kamarnya.
Aku mengira ia kurang tidur.
Aku mengira semua orang berusia dua puluh tiga tahun merasa kebal terhadap apa pun.
Aku mengira kami masih punya waktu untuk bertanya nanti.