Bab · Bagian 1 dari 3
Tiga Puluh Delapan
Angka 38 itu sebenarnya kecil.
Tapi ketika ditulis dengan tinta merah di pojok kanan atas kertas ulangan, dilingkari dua kali, lalu diletakkan di meja Raka saat kelas sedang sunyi, angka itu terasa sebesar papan tulis.
Raka menatapnya selama tiga detik.
Lalu lima.
Lalu ia membalik kertasnya.
Bima yang duduk di sebelahnya melirik tanpa izin. “Berapa?”
“Nilai suhu badan.”
“Kalau suhu badan tiga puluh delapan, lo demam.”
“Makanya. Gue lagi sakit.”
Bima menahan tawa. “Sakit matematika.”
Raka menyikut lengannya pelan, tapi telinganya sudah terasa panas. Di depan kelas, Pak Arif masih membagikan lembar ulangan satu per satu. Ada suara kursi bergeser, desahan kecewa, bisikan puas, dan satu suara dari barisan depan yang berkata, “Yes, sembilan puluh dua.”
Raka tidak perlu melihat siapa. Ia sudah tahu.
Nisa Aulia.
Bukan karena Nisa suka pamer. Justru sebaliknya. Gadis itu biasanya menerima nilai seperti menerima struk belanja: dilihat, dilipat, dimasukkan ke buku. Yang mengumumkan angka sembilan puluh dua tadi adalah Alya, ketua kelas, yang melihat kertas Nisa lebih dulu.
“Wih, Nis. Tinggi banget.”
Nisa hanya mengangkat bahu. “Salah dua.”
Raka hampir ingin tertawa. Ada orang yang bilang salah dua dengan wajah bersalah, sementara ia benar entah berapa.
Pak Arif kembali ke depan kelas setelah lembar terakhir dibagikan. Guru matematika itu tidak terlihat marah. Itu malah membuat Raka lebih tidak nyaman. Kalau guru marah, setidaknya murid bisa menyalahkan suasana.
“Yang nilainya di bawah tujuh puluh, jangan panik,” kata Pak Arif.
Raka menunduk. Lima belas kepala lain ikut menunduk.
“Dan yang nilainya di atas tujuh puluh, jangan merasa aman.”
Kali ini beberapa kepala di depan ikut terangkat.
Pak Arif mengambil spidol. Ia menggambar sebuah titik kecil di tengah papan.
“Coba lihat ini.”
Bima berbisik, “Titik.”
“Terima kasih, Profesor.”
Pak Arif menambah beberapa titik lain, lalu menghubungkannya dengan garis yang tidak lurus sempurna.
“Nilai kalian hari ini cuma satu titik. Bukan seluruh grafik.”
Raka menatap papan meski tidak ingin.
“Kalau hari ini kalian dapat tiga puluh, bukan berarti hidup kalian akan terus di angka tiga puluh. Kalau dapat seratus, juga bukan jaminan grafik kalian selalu di atas.” Pak Arif meletakkan spidol. “Matematika bukan soal siapa yang paling cepat menghitung. Tapi siapa yang mau memahami pola.”
Kalimat itu terdengar bagus.
Masalahnya, Raka tidak merasa punya pola selain: belajar, bingung, menghafal rumus, lupa rumus, salah, lalu mendapat angka merah.
“Pak,” suara Reno dari belakang muncul, “kalau polanya selalu turun gimana?”
Kelas tertawa.
Pak Arif ikut tersenyum. “Berarti kita cari dulu kenapa turunnya. Bukan menyimpulkan kamu ditakdirkan jatuh.”
Raka menatap kertas yang tadi dibaliknya.
Di bagian bawah, Pak Arif menulis satu kalimat kecil dengan pulpen biru:
Kamu terlalu cepat menyerah di langkah pertama.
Raka tidak tahu kenapa komentar itu membuatnya lebih kesal daripada angka 38.
Bel istirahat berbunyi. Kelas langsung berubah menjadi pasar kecil. Ada yang berdiri, membuka bekal, pergi ke kantin, dan menyerbu colokan di dekat jendela.
Raka memasukkan kertas ulangannya ke tas secepat mungkin.
“Remedial, Kak?” Bima bertanya sambil memasang wajah iba berlebihan.
“Doain hidup lo tenang.”
“Gue tujuh puluh satu.”
Raka berhenti.
Bima mengeluarkan kertasnya dan mengangkat angka 71 seperti piala. “Satu angka di atas garis kemiskinan akademik.”
Untuk pertama kalinya pagi itu Raka tertawa.
Mereka turun ke kantin. Di tangga, Raka melihat Nisa berjalan beberapa anak tangga di depan mereka. Rambutnya diikat rendah, tasnya digendong hanya di satu bahu. Ia berhenti ketika salah satu buku jatuh dari pelukannya.
Raka refleks mengambilnya.
Sampulnya buku matematika bergaris kotak. Ada stiker kecil berbentuk kompas di pojok.
“Ini.”
Nisa menoleh. “Makasih.”
Pandangan mereka cuma bertemu sebentar, tapi entah kenapa Raka merasa Nisa sempat melihat kertas ulangan yang menyembul dari tasnya.
Ia buru-buru mendorong kertas itu masuk lebih dalam.
Nisa tidak bilang apa-apa.
Bagus.
Raka lebih suka dikasihani diam-diam daripada ditanyai.
Namun setelah istirahat, Pak Arif datang lagi dengan berita yang menurut Raka jauh lebih buruk daripada remedial.
“Mulai minggu ini, yang belum tuntas saya minta ikut sesi belajar pendampingan setiap Selasa dan Kamis sepulang sekolah.”
Suara keluhan terdengar serempak.
Pak Arif mengangkat telapak tangan. “Tenang. Bukan tambahan dua jam ceramah dari saya.”
“Alhamdulillah,” gumam Bima.
“Kalian akan belajar berpasangan. Saya sudah pilih pasangan berdasarkan cara kalian mengerjakan soal, bukan berdasarkan nilai saja.”
Raka punya firasat tidak enak.
Pak Arif membuka daftar.
“Alya dengan Reno. Bima dengan Seno. Raka…”
Raka menahan napas.
“…dengan Nisa.”
Bima menoleh sangat lambat, lalu membentuk huruf O dengan mulutnya.
Raka ingin melempar penghapus.
Dari depan, Nisa juga menoleh. Tatapannya tidak mengejek, tidak senang, tidak juga keberatan. Biasa saja.
Itu justru membuat Raka makin kikuk.
Sepulang sekolah, ketika murid lain mulai turun ke parkiran, Raka sengaja bergerak lambat. Ia berharap Nisa pulang duluan sehingga sesi pendampingan bisa dimulai hari Kamis saja.
Ia sedang memasukkan charger ke tas ketika suara Nisa muncul dari samping.
“Raka.”
Ia menoleh.
Nisa berdiri dua meja jauhnya sambil memegang buku kotak-kotaknya.
“Pak Arif bilang mulai hari ini.”
“Oh.”
“Kalau kamu ada urusan, kita bisa setengah jam dulu.”
Raka ingin bilang ada urusan. Apa saja. Menjemur kasur. Mengantar kucing tetangga vaksin. Mengukur panjang jalan raya dengan penggaris.
Tapi kemudian ia teringat komentar di kertasnya.
Terlalu cepat menyerah di langkah pertama.
Raka menarik kursi.
“Ya udah. Setengah jam.”
Nisa duduk di seberangnya. Tidak langsung membuka buku. Tidak langsung bertanya rumus mana yang tidak Raka hafal.
Ia justru mengambil kertas kosong dan menulis satu kalimat.
Aku nggak bisa matematika.
Raka mengerutkan kening. “Apaan?”
“Kamu sering bilang begitu?”
Raka diam.
Tadi saat melihat nilai, iya. Minggu lalu, iya. Sejak SMP, mungkin ratusan kali.
“Lumayan.”
Nisa mencoret kata nggak bisa, lalu menulis dua kata di atasnya.
belum ngerti
Sekarang kalimat itu menjadi:
Aku belum ngerti matematika.
Raka mendengus kecil. “Cuma ganti kata.”
“Beda.”
“Bedanya?”
“Kalau nggak bisa, kedengarannya selesai.” Nisa mengetuk kata belum. “Kalau belum ngerti, masih ada kemungkinan.”
Raka menatap tulisan itu.
“Ini trik motivasi?”
“Enggak. Gue juga benci kalimat motivasi yang ditempel di kelas.”
Raka tanpa sadar tersenyum.
Nisa membalik kertas ulangan Raka yang entah kapan sudah ia keluarkan dari tas. “Kita lihat soal pertama.”
Raka refleks hendak menutupnya. “Nilai gue jelek banget.”
“Gue bisa lihat.”
“Wah, makasih.”
“Tapi ini bukan soal nilai.” Nisa menunjuk nomor satu. “Di sini kamu salah, tapi dua langkah pertama benar.”
Raka menatap coretannya sendiri.
Ia bahkan tidak pernah memperhatikan ada langkah yang benar.
Selama ini semua kesalahan di kertas terasa seperti satu bukti utuh bahwa ia memang bodoh.
Nisa mendorong pensil ke arahnya.
“Coba mulai dari yang kamu ngerti.”
Raka mengambil pensil.
Untuk pertama kalinya sejak kertas bernilai 38 itu diletakkan di mejanya, angka merah di pojok tidak lagi menjadi hal pertama yang ia lihat.
Ia melihat baris pertama soal.
Dan kali ini, ia tidak langsung menyerah.
Perjalanan pulang hari itu tidak membuat Raka langsung berubah menjadi siswa yang rajin.
Ia tetap mampir membeli gorengan bersama Bima.
Tetap menonton dua video pendek sampai hampir lupa waktu.
Tetap mengeluh ketika ingat besok ada tugas Biologi.
Tapi ada satu hal yang terus muncul di kepalanya: belum ngerti.
Bukan nggak bisa.
Belum ngerti.
Dua kata itu mengganggu dengan cara yang berbeda dari nasihat orang dewasa. Tidak terdengar seperti “kamu harus lebih rajin” atau “kalau mau pasti bisa”. Kalimat-kalimat seperti itu sudah terlalu sering ia dengar sampai kehilangan bentuk.
Sore di rumah, Bu Maya sedang memilah pakaian kering di ruang tengah ketika Raka masuk.
“Gimana ulangannya?” tanyanya.
Raka berhenti saat melepas sepatu.
Ia lupa sekolah mengirim jadwal penilaian ke grup orang tua.
“Biasa.”
“Biasa berapa?”
“Belum dibahas.”
Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Nilainya memang sudah dibagikan, tapi soalnya belum dibahas.
Bu Maya menatapnya sebentar, lalu tidak mengejar. “Makan dulu. Ada sayur bening.”
Raka masuk kamar sambil merasa lega dan bersalah sekaligus.
Kertas 38 masih ada di tas.
Ia mengeluarkannya dan meletakkan di meja.
Dulu, waktu kelas delapan, ia pernah mendapat 42 pada ulangan aljabar. Guru lesnya saat itu melihat kertasnya dan berkata di depan dua teman lain, “Kamu ini sebenarnya kurang latihan atau memang nggak nyambung kalau ketemu angka?”
Mungkin kalimat itu dimaksudkan sebagai teguran.
Raka mengingatnya sebagai vonis.
Sejak saat itu, setiap kali gagal di matematika, ia merasa sedang mengumpulkan bukti untuk membenarkan kesimpulan lama: memang nggak nyambung.
Ketika berhasil, ia menganggapnya kebetulan atau soal sedang mudah.
Ia tidak pernah melakukan hal yang sama pada fotografi.
Foto blur? Ia mencoba shutter speed lain.
Komposisi jelek? Ia pindah posisi.
Cahaya terlalu keras? Ia menunggu.
Tidak pernah sekali pun ia melihat satu foto gagal lalu berkata, gue memang nggak bakat melihat.
Raka duduk di kursi.
Perbedaan itu membuatnya kesal pada diri sendiri.
Ia membalik kertas ulangan dan membaca komentar Pak Arif lagi.
Kamu terlalu cepat menyerah di langkah pertama.
Nomor dua sebenarnya sudah ia mulai benar. Ia mengubah bentuk persamaan, lalu ketika muncul pecahan, ia berhenti dan menulis sembarang jawaban.
Nomor empat kosong total.
Padahal setelah melihat lagi, ia mengenali bentuknya.
Tidak langsung tahu cara menyelesaikan, tapi mengenali.
Malam itu Raka mencoba satu soal selama hampir dua puluh menit.
Ia tetap salah.
Ia menghapus dua kali.
Mencari contoh di buku.
Mencoba lagi.
Jawaban akhir masih tidak cocok dengan kunci.
Raka hampir membanting pensil.
Kemudian ia berhenti dan memperhatikan langkahnya.
Ada satu operasi yang salah: -3 dikali -2 ia tulis -6.
Ia memperbaiki.
Jawaban cocok.
Tidak ada kembang api.
Tapi Raka menatap hasil itu cukup lama.
Masalahnya bukan ia tidak punya otak matematika.
Setidaknya pada soal ini, masalahnya satu tanda negatif.
Besok paginya, ayahnya sudah duduk di meja makan saat Raka turun.
“Nilai matematika keluar, kan?” tanya Pak Hendra.
Raka hampir mengulang kebohongan kemarin.
Lalu ia mengeluarkan kertas dari tas dan meletakkannya di meja.
Ayahnya melihat angka 38.
Wajahnya tidak marah, tapi dahi berkerut.
“Ini kenapa?”
Raka benci pertanyaan itu karena ia juga tidak tahu jawaban singkatnya.
“Banyak yang nggak ngerti.”
Pak Hendra membuka beberapa halaman. “Mas Dito dulu kalau nggak ngerti langsung tanya.”
Nama itu datang seperti biasa.
Raka menarik kertasnya lebih cepat dari yang perlu.
“Ya, aku bukan Mas Dito.”
Ruangan hening.
Bu Maya menaruh piring telur di meja. “Hendra.”
Ayahnya menghela napas. “Ayah cuma kasih contoh.”
“Contohnya selalu dia.”
Raka memasukkan kertas ke tas.
“Aku berangkat.”
“Belum sarapan.”
“Nanti.”
Ia keluar rumah dengan perut kosong dan kepala panas.
Di ujung gang, Bima menunggu sambil makan roti.
“Lo kayak mau perang.”
“Udah.”
“Menang?”
“Enggak ada yang menang.”
Raka menceritakan singkat.
Bima mengunyah sampai habis sebelum menjawab. “Bokap gue kalau marah bilang anak tetangga bisa bantu orang tua jualan sambil sekolah.”
“Terus?”
“Gue pernah jawab, ‘Ya udah adopsi anak tetangga.’”
Raka tertawa meski sedang kesal.
“Terus gue ditabok pakai handuk.”
“Pantes.”
Mereka berjalan menuju sekolah.
Di gerbang, Raka melihat Nisa dari jauh sedang membeli air mineral. Ia tidak tahu kenapa, tapi teringat kalimat di kertas kosong kemarin.
Aku belum ngerti matematika.
Hari itu ia masih mendapat 38.
Ayahnya masih membandingkan.
Ia masih kesal.
Tidak ada yang ajaib berubah dalam semalam.
Tapi untuk pertama kali, Raka merasa mungkin ada perbedaan antara menjadi orang yang tidak bisa dan menjadi orang yang sedang belum paham.
Perbedaan itu kecil.
Seperti satu tanda negatif yang nyaris tidak kelihatan.
Tapi kadang satu tanda bisa mengubah seluruh hasil.