Bab · Bagian 1 dari 3
Pelabuhan yang Hafal Wajahku
Pada bulan keenam, bahkan orang-orang di pelabuhan sudah berhenti bertanya siapa yang kutunggu.
Pak Dol, penjual kopi yang warungnya lebih mirip lemari kayu diberi roda, tinggal mengangkat satu gelas kertas begitu melihatku datang.
“Yang biasa?”
Aku mengangguk.
“Dua?”
Aku menatapnya.
Pak Dol mengangkat kedua tangan. “Nanya doang. Siapa tahu hari ini Mbak Alya akhirnya sadar kopi satu itu lebih murah.”
“Pak Dol.”
“Iya, iya. Satu. Tanpa gula. Saya takut sama tatapan janda galak.”
Tanganku berhenti di dalam tas.
Dia langsung pucat. “Eh. Maaf. Mulut saya memang nggak punya rem.”
Aku menarik dompet dan meletakkan uang di atas kotak biskuit. “Remnya ada. Cuma Bapak sengaja potong kabelnya.”
Pak Dol tertawa lega.
Aku juga, sedikit.
Humor kecil adalah salah satu cara manusia bertahan hidup tanpa perlu mengaku bahwa hidupnya sedang berantakan.
Sore itu Pelabuhan Teluk Jati berbau solar, garam, dan ikan yang terlalu lama menunggu pembeli. Matahari menggantung rendah di balik bukit kering di seberang teluk. Kapal kayu bermesin tua masuk satu per satu, membawa karung, kardus, ayam dalam keranjang, anak sekolah yang pulang dari pulau seberang, dan orang-orang yang punya tempat untuk kembali.
Aku duduk di bangku beton paling ujung.
Bangku itu bahkan sudah punya cekungan kecil di sisi kiri karena catnya mengelupas dan semen di bawahnya aus. Entah karena cuaca atau karena aku terlalu sering duduk di sana.
Enam bulan lalu, Arga berangkat dari pelabuhan lain di utara Lombok menggunakan KM Sagara Purnama.
Kapal itu tidak pernah sampai ke tujuan.
Kebakaran terjadi malam hari.
Aku tahu waktu persisnya karena pukul 23.41 aku masih mengirim pesan yang tidak dibalas.
Jangan lupa beli charger. Punyaku rusak.
Tiga menit kemudian aku mengirim lagi.
Dan jangan sok lupa karena harganya mahal.
Pesan kedua cuma centang satu.
Besok paginya, berita tentang kapal terbakar memenuhi grup keluarga, media lokal, dan layar televisi warung. Sebagian penumpang diselamatkan kapal nelayan. Sebagian ditemukan meninggal. Sebagian tidak pernah ditemukan.
Arga masuk kelompok terakhir.
Tidak ada jasad.
Tidak ada tas.
Tidak ada jam tangan.
Tidak ada sandal yang bisa dibawa pulang dan dipeluk sambil berpura-pura itu cukup untuk disebut pemakaman.
Hanya nama dalam daftar orang hilang yang kemudian, pelan-pelan, diperlakukan semua orang seperti sinonim dari mati.
Kecuali olehku.
“Ada kapal dari Gili Lemo!” teriak seorang petugas dari ujung dermaga.
Aku berdiri sebelum sempat menyuruh tubuhku tenang.
Kebiasaan bodoh.
Setiap ada kapal masuk, aku berdiri.
Setiap ada lelaki dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sampai seratus delapan puluh turun dari kapal, jantungku menendang rusuk.
Setiap ternyata bukan Arga, aku duduk lagi dan merasa malu pada siapa pun yang mungkin memperhatikan.
Hari itu seorang laki-laki berjaket abu-abu turun paling akhir. Rambutnya hitam, bahunya lebar, langkahnya sedikit menyeret kaki kanan.
Arga juga kadang menyeret kaki kanan kalau duduk terlalu lama di motor.
Aku berjalan dua langkah.
Laki-laki itu menoleh.
Bukan.
Tentu saja bukan.
Umurnya mungkin lima puluh tahun. Kumisnya tebal. Di tangannya ada kandang burung.
Aku mengembuskan napas dan kembali ke bangku.
“Kalau suatu hari beneran dia turun dari kapal, Mbak jangan langsung pingsan,” kata Pak Dol dari belakang gerobaknya. “Saya nggak kuat angkat.”
“Tenang. Saya pingsannya dekat petugas.”
“Bagus. Profesional.”
Aku menyeruput kopi yang terlalu panas.
Ada masa ketika aku benci orang-orang di sini karena bisa bercanda di dekat seseorang yang kehilangan suami.
Lalu aku sadar mereka bercanda justru karena mereka sudah melihatku terlalu sering datang dengan wajah yang sama. Mereka tak tahu lagi harus menawarkan apa.
Simpati punya masa kedaluwarsa.
Kesedihan tidak.
Ponselku bergetar.
Nama Dita muncul di layar.
Sahabatku itu tidak menelepon. Dia mengirim foto nasi goreng, lalu pesan.
Makan.
Aku membalas.
Kopi termasuk makanan cair.
Balasannya datang cepat.
Kalau kamu masuk rumah sakit karena maag, aku nggak akan jenguk. Aku cuma akan kirim foto pecel lele.
Aku tersenyum.
Dita sudah belajar bahwa memintaku berhenti datang ke pelabuhan sama efektifnya dengan meminta ombak mengisi formulir izin sebelum menyentuh pantai.
Awalnya dia ikut dua minggu sekali. Setelah bulan ketiga, pekerjaannya sebagai produser radio makin sibuk dan aku mulai merasa bersalah membuatnya menunggu seseorang yang bahkan mungkin tidak sedang menuju ke mana-mana.
“Alya.”
Aku menoleh.
Bu Ina, penjual gorengan, berdiri membawa plastik bening berisi dua pisang goreng.
“Satu aja, Bu.”
“Dua. Yang satu buat—”
Dia berhenti.
Kami sama-sama melihat plastik itu.
Dulu Arga selalu membeli dua pisang goreng dan memakan satu sebelum aku sempat protes soal minyaknya. Bu Ina masih kadang lupa bahwa jumlah orang dalam hidupku sudah berubah.
“Buat nanti malam,” katanya cepat.
Aku menerima plastik itu. “Makasih.”
Bu Ina memegang lenganku sebentar, lalu pergi tanpa mengatakan apa pun.
Ada belas kasih yang paling baik justru ketika tidak berusaha terdengar pintar.
Aku membuka galeri ponsel.
Foto terakhir Arga ada di urutan yang sudah kuhafal. Dia berdiri di depan lemari rumah, kaus hitam, rambut masih basah, satu tangan memegang kaus kaki yang tidak cocok pasangannya.
“Aku cuma nanya kaus kaki biru gue yang mana,” katanya waktu itu.
“Foto dulu. Biar ada bukti pernah nyari barang sendiri.”
“Fitnah. Selama ini aku mandiri.”
“Kamu pernah nelpon aku dari dapur buat nanya garam di mana.”
“Karena kamu mengubah sistem negara tanpa sosialisasi.”
Garam itu cuma kupindah dari rak kanan ke rak kiri.
Aku memperbesar fotonya.
Jam hitam di pergelangan tangan kiri.
Tali kulit dengan jahitan putih yang sedikit miring dekat pengait.
Aku yang menjahitnya.
Waktu talinya robek, Arga menolak membeli baru karena katanya jam itu “cuma butuh dijahit, bukan diceraikan”. Aku tertawa sampai jarumnya menusuk jariku.
Kami punya banyak hal kecil seperti itu.
Hal-hal yang tidak layak masuk album pernikahan, tetapi justru paling sering muncul ketika seseorang hilang.
Bau sabunnya.
Cara dia mengupas jeruk dari bawah.
Kebiasaannya memegang gelas dengan ibu jari dan telunjuk seolah tiga jari lain tidak berguna.
Nada “hm” kalau dia tahu aku marah tapi belum siap bertengkar.
Dan kalimat terakhir kami sebelum dia pergi.
Kalimat itu tidak romantis.
Tidak ada “jaga diri”.
Tidak ada “aku sayang kamu”.
Aku berkata, “Kalau semua hal harus kamu rahasiakan, buat apa kita nikah?”
Dia menjawab, “Nggak semua hal perlu kamu tahu saat ini.”
Aku masuk kamar dan menutup pintu lebih keras dari yang diperlukan.
Dua jam kemudian dia pergi.
Aku tidak mengantarnya.
Sejak itu, kalimat tersebut tinggal di kepalaku seperti serpihan kaca yang terlalu kecil untuk dicabut, tapi cukup tajam untuk terasa setiap kali aku bergerak.
Langit berubah jingga.
Satu kapal lagi merapat.
Aku tidak berdiri kali ini.
Ponselku bergetar lagi.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada nama.
Tidak ada pesan.
Hanya satu foto.
Aku hampir mengabaikannya. Selama tiga bulan pertama setelah kecelakaan, ada orang-orang aneh yang mengirim kabar palsu karena berharap mendapat uang. Ada yang mengaku melihat Arga di Bali. Ada yang bilang dia dirawat di rumah sakit Jawa Timur. Ada yang meminta transfer dua juta untuk “informasi penting”.
Aku belajar memblokir tanpa membaca terlalu lama.
Tapi thumbnail foto itu membuat jariku berhenti.
Sebuah warung sederhana.
Atap seng.
Meja plastik merah.
Motor terparkir miring di depan.
Beberapa orang duduk dengan punggung menghadap kamera.
Di pojok kanan, dekat kulkas minuman, ada seorang laki-laki.
Foto diambil dari jarak cukup jauh. Wajah laki-laki itu hanya terlihat separuh karena kepalanya menoleh ke samping.
Aku tidak bernapas.
Bahunya.
Ada orang yang mengira kita mengenali orang yang kita cintai dari wajah.
Tidak selalu.
Kadang dari cara bahu turun sedikit ketika duduk.
Dari posisi kaki.
Dari lengan kiri yang diletakkan di meja.
Aku memperbesar foto.
Piksel pecah.
Wajah makin buram.
Tapi tangannya masih terlihat.
Dia memegang gelas dengan dua jari.
Jantungku mulai berdetak begitu keras sampai suara kapal di depan seolah menjauh.
Aku memperbesar lagi.
Pergelangan tangan kiri.
Jam hitam.
Tali kulit.
Jahitan putih dekat pengait.
Tidak lurus.
Miring sedikit ke kanan.
Jahitanku.
Aku berdiri terlalu cepat sampai kopi tumpah ke celana.
“Ya Allah, Mbak!” Pak Dol berteriak.
Aku tidak mendengar jelas.
Karena baru saat itu aku melihat satu hal lain.
Di kursi sebelah laki-laki itu duduk seorang perempuan berkerudung biru muda.
Tubuhnya condong ke arahnya.
Tangan kanannya berada di atas meja.
Menutupi tangan laki-laki itu.
Menggenggamnya.
Dan di bawah dua tangan yang saling bertaut itu, jam Arga menunjukkan pukul lima lewat dua belas.
Jam yang sudah enam bulan kucari di dasar laut.