← bacavia Cuplikan gratis
Bagikan & dapat komisi

Rekomendasikan buku ini ke temanmu lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya.

Masuk untuk mendapatkan link referral Komisi 10% dari dasar pembagian penjualan setelah biaya pembayaran. Link permanen; referensi per buku tidak kedaluwarsa setelah tersimpan ke akun pembeli. Klik terakhir sebelum pesanan dibuat yang berlaku. Pembelian sendiri tidak menghasilkan komisi. Untuk pembeli yang belum masuk, referensi mengikuti browser yang digunakan sampai tersimpan ke akun.

Gratis · Suara perangkat · Membaca bagian yang terbuka.

Rahasia Di Balik Langit Desa Kita (IPAS Kelas 4)

Bab · Bagian 1 dari 3

BAB 1 — Tiga Kedipan di Bukit

Dari halaman 1 · Baca dengan ritmemu

Lala sedang menggosok gigi ketika langit di atas Bukit Kenari berkedip.

Bukan kilat. Tidak ada suara petir. Tidak ada hujan. Bahkan awan hanya tipis seperti kapas yang ditarik panjang.

Cahaya itu muncul sekali. Biru pucat.

Lalu dua kali.

Lalu tiga kali.

Lala berhenti menyikat gigi. Busa pasta gigi masih memenuhi mulutnya.

“Buuuu!” teriaknya, tetapi yang keluar malah terdengar seperti orang berkumur.

Dari dapur, Ibu menjawab, “Kalau manggil Ibu, kumurnya diselesaikan dulu!”

Lala buru-buru membilas mulut, lalu berlari ke teras. Malam di Desa Langgasari biasanya tenang. Dari rumahnya, ia bisa melihat atap-atap rumah, ujung sawah, dan garis gelap Bukit Kenari di sebelah utara desa. Di atas bukit itulah cahaya tadi muncul.

Ia menunggu.

Tidak ada apa-apa.

“Jangan-jangan aku salah lihat,” gumamnya.

Saat itulah seluruh lampu di rumah padam.

Kipas angin berhenti. Televisi mati. Lampu teras padam. Dari rumah tetangga terdengar beberapa orang berseru kaget.

“Listrik mati!” suara Bima terdengar dari seberang jalan.

Beberapa detik kemudian, kepala Bima muncul dari balik pagar. Rambutnya masih basah dan berdiri ke segala arah.

“La! Kamu lihat cahaya di bukit?”

Lala membelalakkan mata. “Kamu juga lihat?”

Bima mengangguk cepat. “Tiga kali. Biru. Kayak... kayak kapal alien ngasih kode!”

“Kalau alien datang ke Langgasari cuma buat mematikan listrik, mereka kurang kerjaan.”

“Bisa jadi mereka cari pecel Bu Sumi.”

“Alien makan pecel?”

“Kalau belum pernah coba, rugi.”

Lala ingin tertawa, tetapi matanya terus menatap bukit.

Tak lama kemudian Nia datang bersama ayahnya. Nia tinggal dua rumah dari Lala. Ia membawa senter kecil dan sandal jepit yang berbeda warna karena dipakai terburu-buru.

“Ayah mau cek rumah Pak RT,” katanya. “Katanya listrik mati hampir satu desa.”

“Cahaya di bukit?” tanya Lala.

Nia langsung mengangguk.

Sekarang mereka bertiga saling pandang.

“Berarti bukan halusinasi massal,” kata Bima.

“Kamu tahu arti halusinasi massal?” tanya Nia.

“Enggak. Kedengarannya pintar.”

Seno datang terakhir. Ia tidak berlari seperti yang lain. Ia berjalan cepat sambil membawa buku catatan kecil dan pensil di telinga.

“Aku lihat,” katanya sebelum ada yang bertanya. “Tiga kedipan. Jarak antar-kedip kira-kira dua detik.”

Bima mendesah. “Tentu saja kamu menghitung.”

Seno mengangkat bahu. “Kalau ada hal aneh, catat dulu. Baru takut belakangan.”

Itulah Seno. Ia bisa takut pada cicak yang jatuh dari plafon, tetapi kalau menemukan sesuatu yang membuat penasaran, rasa takutnya sering kalah oleh keinginan mencatat.

Ayah Nia meminta mereka tetap di halaman rumah karena gelap. Orang-orang dewasa mulai memeriksa gardu kecil di dekat jalan utama. Beberapa rumah menyalakan lampu darurat. Suara generator dari warung Pak Udin terdengar dari kejauhan.

Lala masuk ke rumah mengambil senter. Ia menekan tombolnya.

Tidak menyala.

“Baterainya habis,” katanya ketika kembali.

Bima mengambil senter itu dan mengetuk-ngetukkannya ke telapak tangan.

“Jangan dipukul,” kata Lala.

“Ini teknik ahli.”

“Teknik ahli bikin barang rusak.”

Nia mengarahkan senternya ke tangan Bima. “Pakai punyaku saja.”

Cahaya putih menerangi senter Lala yang mati. Bima membuka penutup belakangnya. Dua baterai kecil ada di dalam.

“Kenapa benda kecil begini bisa bikin lampu nyala?” tanya Bima.

Seno menjawab, “Karena baterai menyimpan energi.”

“Energi apa?”

Seno berhenti. “Nah. Itu aku belum yakin.”

Lala tersenyum. Ia suka saat Seno mengatakan belum tahu. Artinya mereka semua boleh bertanya.

Ibu Lala yang berdiri di pintu mendengar percakapan mereka. “Besok tanyakan Bu Rani. Sekarang jangan menjadikan mati lampu sebagai alasan keluyuran.”

“Bu, kami bukan keluyuran,” kata Bima. “Kami sedang menyelidiki serangan alien.”

Ibu Lala menatapnya datar. “Kalau aliennya datang, suruh besok saja. Anak-anak harus tidur.”

Mereka tertawa.

Listrik kembali menyala sekitar dua puluh menit kemudian. Orang-orang bersorak kecil. Ayah Nia memberi kabar bahwa ada gangguan pada jaringan dan petugas sedang memeriksa penyebabnya. Tidak ada yang menghubungkannya dengan cahaya di bukit.

Kecuali empat anak itu.

Keesokan paginya, mereka bertemu di sekolah. SD Negeri Langgasari berada di tepi sawah, tidak jauh dari sungai kecil yang membelah desa. Dari jendela kelas IV, Bukit Kenari terlihat jelas.

Bu Rani masuk membawa sebuah kotak plastik berisi beberapa benda: baterai, lampu kecil, kipas mini bertenaga baterai, dan karet gelang.

“Pagi ini,” katanya, “Ibu mau bertanya satu hal sederhana. Apa yang membuat benda-benda di sekitar kita bisa bekerja?”

Bima mengangkat tangan. “Tombol, Bu.”

Satu kelas tertawa.

Bu Rani ikut tersenyum. “Tombol memang membantu menyalakan beberapa alat. Tapi tombol bukan sumber yang membuatnya bekerja.”

Lala mengangkat tangan. “Energi?”

“Ya.”

Bu Rani menyalakan lampu kecil dengan baterai. “Energi bisa berubah bentuk. Pada alat ini, energi yang tersimpan di baterai membantu menghasilkan energi listrik, lalu lampu mengubahnya terutama menjadi cahaya. Sebagian energi juga menjadi panas.”

Bima menyentuh lampu kecil setelah beberapa saat. “Hangat.”

“Betul. Tidak semua energi berubah menjadi satu bentuk yang kita inginkan.”

Bu Rani lalu menunjukkan kipas mini. Saat dinyalakan, baling-balingnya berputar.

“Di sini energi listrik berubah menjadi apa?”

“Gerak,” jawab Nia.

“Bagus.”

Lala teringat cahaya tiga kali di bukit. “Bu, kalau ada cahaya di bukit, berarti pasti ada sumber energi juga?”

Bu Rani memandangnya. “Pertanyaan bagus. Cahaya tidak muncul dari ketiadaan. Kita perlu mencari tahu sumber dan proses yang menghasilkan cahaya itu.”

Bima langsung menoleh ke Lala dengan wajah kemenangan seolah Bu Rani baru mengesahkan penyelidikan mereka.

Bu Rani belum selesai. “Tapi mencari tahu bukan berarti menebak liar. Kita mengamati, bertanya, membuat dugaan, lalu mencari bukti.”

Seno menulis cepat di bukunya.

Sepulang sekolah, keempat anak itu berjalan menuju tepi sawah. Mereka tidak mendaki bukit. Bu Rani sudah mengingatkan bahwa anak-anak tidak boleh pergi ke tempat sepi tanpa orang dewasa. Mereka hanya ingin melihat Bukit Kenari dari tempat terbuka.

Matahari sore memantulkan cahaya pada sesuatu di lereng atas.

“Lihat!” Nia menunjuk.

Di antara pepohonan, sesuatu berkilau.

Bima menyipitkan mata. “Itu alien siang-siang?”

“Bisa berhenti soal alien?” kata Lala.

Seno mengeluarkan buku catatannya. “Lokasinya dekat pohon besar yang bentuknya miring ke kiri.”

Mereka hendak pulang ketika Lala melihat sesuatu di pematang sawah. Sebuah benda kecil berwarna perak setengah tertutup lumpur.

Ia memungutnya.

Benda itu seperti kepingan logam berbentuk bintang dengan lubang kecil di tengah. Di salah satu sisinya terukir gambar matahari. Di sisi lain ada tiga garis pendek.

Seno menatapnya lama.

“Tiga garis,” katanya.

“Tiga kedipan,” jawab Nia.

Bima tidak bercanda kali ini.

Lala membersihkan lumpur dengan ujung daun kering. Di bawah gambar matahari, ada tulisan sangat kecil.

Mereka merapat.

Tulisan itu hanya dua kata.

LANGIT DESA.

Ketika senter memakai baterai dan menghasilkan cahaya, perubahan energi yang paling tepat adalah...

Pilih satu jawaban. Hasil dan pembahasan langsung muncul.

Pilihan disimpan hanya di browser ini.

Kipas mini yang menggunakan baterai berputar ketika dinyalakan. Bentuk energi yang paling mudah diamati pada baling-baling adalah...

Pilih satu jawaban. Hasil dan pembahasan langsung muncul.

Pilihan disimpan hanya di browser ini.

Lala melihat cahaya aneh di bukit. Langkah paling baik untuk mulai menyelidiki adalah...

Pilih satu jawaban. Hasil dan pembahasan langsung muncul.

Pilihan disimpan hanya di browser ini.

Daftar isi

Rahasia Di Balik Langit Desa Kita (IPAS Kelas 4)

Lanjutkan membaca semua bab di buku lengkap.

Buka Bab Lainnya

Nyaman menurutmu

Warna halaman

Pengaturan disimpan di browser ini.

Stabilo & Catatan

Catatan disimpan di browser ini. Gunakan akun sebelum membuat catatan yang ingin kamu akses di perangkat lain.

Catatan pada stabilo