Bab · Bagian 1 dari 3
SEBELUM KITA PULANG
VOLUME 1
KETIKA KITA MULAI BERTANYA
Ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan jawaban manusia.
PROLOG
Hujan turun seperti orang yang lupa caranya berhenti.
Nara berdiri di bawah atap seng sebuah warung yang sudah tutup, satu tangan memegang kamera, satu tangan lagi menahan ponsel di dekat mulut. Di seberang jalan, lampu terminal tua memantul pada aspal. Tiga bus malam menunggu penumpang. Satu menuju Surabaya, satu ke Yogyakarta, satu lagi tidak terlihat tujuannya karena papan di kaca depannya tertutup embun.
Ia menekan tombol rekam.
"Mas, aku baru kepikiran sesuatu. Orang-orang selalu bilang pulang seolah-olah itu hal paling sederhana. Tinggal cari jalan, naik kendaraan, sampai. Tapi gimana kalau kita tahu alamat rumah, tapi nggak tahu sebenarnya kita sedang pulang ke mana?"
Nara diam beberapa detik. Suara knalpot bus masuk ke rekaman. Ada anak kecil menangis, pedagang kopi menawarkan minuman, dan azan Isya terdengar jauh, terpotong oleh suara hujan.
"Ah, terlalu sok filosofis. Hapus saja kalau dengar ini."
Ia tertawa kecil, lalu tidak menghapusnya.
Di layar ponsel, nama Arga masih berada di urutan pertama kontak favorit. Sudah tiga kali ia menelepon kakaknya malam itu. Tidak ada jawaban.
Arga sedang berdiri di lantai dua puluh sebuah hotel di Jakarta, mengangkat gelas berisi soda dalam pesta kecil setelah presentasi terbesar dalam kariernya. Proyeksi akuisisi perusahaan mereka dipajang di layar. Bima menepuk bahunya dan berkata bahwa hidup mereka akhirnya mulai masuk akal.
Arga tidak tahu bahwa pada saat yang hampir bersamaan, adiknya menyimpan kamera ke dalam tas, menyeberangi jalan, dan memutuskan untuk mencoba meneleponnya sekali lagi.
Panggilan itu masuk pukul 21.47.
Arga melihat nama Nara muncul di layar. Ia menolak panggilan itu dengan satu sentuhan, lalu mengetik cepat:
Lagi meeting. Besok ya.
Pesan tidak pernah dibalas.
Dua puluh tiga menit kemudian, sebuah truk kehilangan kendali di jalan yang licin dekat simpang terminal.
Pada pukul 22.31, sebuah nomor tak dikenal menelepon Arga.
Ia membiarkannya berdering sampai berhenti.
Nomor itu menelepon lagi.
Kali ini Arga mengangkat.
Di tengah musik pesta, seseorang bertanya, "Apakah ini keluarga Saudari Nara Pradana?"
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga merasa sebuah kalimat bisa membelah waktu menjadi dua: sebelum ia mendengarnya, dan sesudahnya.