Bab · Bagian 1 dari 3
Prolog
Deni sudah berdiri sebelum nama pemenang dibacakan.
Ia tahu karena tiga hari sebelumnya seseorang dari tim acara meminta foto profil beresolusi tinggi. Ia juga tahu karena presentasi yang memenangkan penghargaan itu dibuat dari rancangan antarmuka yang dikerjakannya selama empat bulan, dari malam-malam ketika ia tidur di sofa kantor, dan dari satu keputusan kecil yang menyelamatkan peluncuran ketika semua orang lain ingin menunda.
Lampu ruangan diredupkan. Logo Helix bergerak di layar raksasa. Orang-orang mengangkat ponsel, siap merekam.
"Penghargaan untuk kontribusi paling berdampak tahun ini diberikan kepada... Rara Maheswari."
Tepuk tangan meledak.
Deni masih berdiri. Sesaat ia terlihat seperti orang yang paling antusias di ruangan itu. Lalu ia sadar kursinya sudah kosong di belakang lutut dan perlahan duduk kembali.
Rara menutup mulut dengan kedua tangan. Ia benar-benar terkejut. Ketika berjalan ke panggung, ia sempat meraih bahu Deni dan berkata, "Ini kerja kita semua."
Deni tersenyum.
"Iya. Selamat."
Kalimat itu benar.
Ia memang ingin mengucapkan selamat.
Ia juga ingin slide di layar salah.
Di panggung, Rara berterima kasih kepada tim produk, menyebut nama Deni bersama tujuh orang lain, lalu mengangkat piala. Kamera menangkap air matanya. Orang-orang kembali bertepuk tangan.
Deni membuka Instagram. Ia sudah menyiapkan sebuah Story dengan foto panggung dan tulisan bangga satu tim sama orang-orang hebat. Jempolnya berhenti di tombol unggah.
Ia menutup aplikasi.
Lima menit kemudian ia membukanya lagi, bukan untuk mengunggah apa pun, melainkan untuk membaca daftar orang yang mengucapkan selamat kepada Rara.
Ia membaca semua komentar.
Lalu membaca sekali lagi.
Ketika seorang rekan bertanya apakah ia baik-baik saja, Deni menjawab, "Santai. Cuma menurutku proses penilaiannya nggak transparan."
Itu juga tidak sepenuhnya salah.
Malam itu, rasa iri tidak datang membawa nama sendiri.
Ia datang memakai jas yang lebih pantas.
Namanya keadilan.