← bacavia Cuplikan gratis
Bagikan & dapat komisi

Rekomendasikan buku ini ke temanmu lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya.

Masuk untuk mendapatkan link referral Komisi 10% dari dasar pembagian penjualan setelah biaya pembayaran. Link permanen; referensi per buku tidak kedaluwarsa setelah tersimpan ke akun pembeli. Klik terakhir sebelum pesanan dibuat yang berlaku. Pembelian sendiri tidak menghasilkan komisi. Untuk pembeli yang belum masuk, referensi mengikuti browser yang digunakan sampai tersimpan ke akun.

Gratis · Suara perangkat · Membaca bagian yang terbuka.

Sebelum Kita Pulang

Bab · Bagian 1 dari 3

SEBELUM KITA PULANG

Dari halaman 1 · Baca dengan ritmemu

VOLUME 1

KETIKA KITA MULAI BERTANYA

Ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan jawaban manusia.

PROLOG

Hujan turun seperti orang yang lupa caranya berhenti.

Nara berdiri di bawah atap seng sebuah warung yang sudah tutup, satu tangan memegang kamera, satu tangan lagi menahan ponsel di dekat mulut. Di seberang jalan, lampu terminal tua memantul pada aspal. Tiga bus malam menunggu penumpang. Satu menuju Surabaya, satu ke Yogyakarta, satu lagi tidak terlihat tujuannya karena papan di kaca depannya tertutup embun.

Ia menekan tombol rekam.

"Mas, aku baru kepikiran sesuatu. Orang-orang selalu bilang pulang seolah-olah itu hal paling sederhana. Tinggal cari jalan, naik kendaraan, sampai. Tapi gimana kalau kita tahu alamat rumah, tapi nggak tahu sebenarnya kita sedang pulang ke mana?"

Nara diam beberapa detik. Suara knalpot bus masuk ke rekaman. Ada anak kecil menangis, pedagang kopi menawarkan minuman, dan azan Isya terdengar jauh, terpotong oleh suara hujan.

"Ah, terlalu sok filosofis. Hapus saja kalau dengar ini."

Ia tertawa kecil, lalu tidak menghapusnya.

Di layar ponsel, nama Arga masih berada di urutan pertama kontak favorit. Sudah tiga kali ia menelepon kakaknya malam itu. Tidak ada jawaban.

Arga sedang berdiri di lantai dua puluh sebuah hotel di Jakarta, mengangkat gelas berisi soda dalam pesta kecil setelah presentasi terbesar dalam kariernya. Proyeksi akuisisi perusahaan mereka dipajang di layar. Bima menepuk bahunya dan berkata bahwa hidup mereka akhirnya mulai masuk akal.

Arga tidak tahu bahwa pada saat yang hampir bersamaan, adiknya menyimpan kamera ke dalam tas, menyeberangi jalan, dan memutuskan untuk mencoba meneleponnya sekali lagi.

Panggilan itu masuk pukul 21.47.

Arga melihat nama Nara muncul di layar. Ia menolak panggilan itu dengan satu sentuhan, lalu mengetik cepat:

Lagi meeting. Besok ya.

Pesan tidak pernah dibalas.

Dua puluh tiga menit kemudian, sebuah truk kehilangan kendali di jalan yang licin dekat simpang terminal.

Pada pukul 22.31, sebuah nomor tak dikenal menelepon Arga.

Ia membiarkannya berdering sampai berhenti.

Nomor itu menelepon lagi.

Kali ini Arga mengangkat.

Di tengah musik pesta, seseorang bertanya, "Apakah ini keluarga Saudari Nara Pradana?"

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga merasa sebuah kalimat bisa membelah waktu menjadi dua: sebelum ia mendengarnya, dan sesudahnya.

Daftar isi

Sebelum Kita Pulang

Lanjutkan membaca semua bab di buku lengkap.

Buka Bab Lainnya

Nyaman menurutmu

Warna halaman

Pengaturan disimpan di browser ini.

Stabilo & Catatan

Catatan disimpan di browser ini. Gunakan akun sebelum membuat catatan yang ingin kamu akses di perangkat lain.

Catatan pada stabilo