← bacavia Cuplikan gratis
Bagikan & dapat komisi

Rekomendasikan buku ini ke temanmu lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya.

Masuk untuk mendapatkan link referral Komisi 10% dari dasar pembagian penjualan setelah biaya pembayaran. Link permanen; referensi per buku tidak kedaluwarsa setelah tersimpan ke akun pembeli. Klik terakhir sebelum pesanan dibuat yang berlaku. Pembelian sendiri tidak menghasilkan komisi. Untuk pembeli yang belum masuk, referensi mengikuti browser yang digunakan sampai tersimpan ke akun.

Gratis · Suara perangkat · Membaca bagian yang terbuka.

Aku Tidak Pernah Mengeluh Selama Menjadi Ibu Sampai Hari Itu Aku Menyerah

Bab · Bagian 1 dari 5

Suhu 38,2

Dari halaman 1 · Baca dengan ritmemu

Pukul lima lewat dua belas, ketika suara mengaji dari mushola ujung gang di Pagutan, Mataram, baru saja mereda, Nia terbangun bukan karena alarm, melainkan karena tubuhnya menggigil di balik selimut. Nama lengkapnya Nursiah, tetapi sejak SMA hampir semua orang memanggilnya Nia.

Ia meraba dahi sendiri. Panas. Tenggorokannya seperti dilapisi pasir. Kepalanya berat, dan setiap kali menelan, ada rasa perih yang menjalar sampai telinga.

Nia menatap jam di ponsel, lalu menatap pintu kamar.

Tiga menit kemudian ia sudah berdiri.

Bukan karena demamnya hilang.

Karena hari itu hari Selasa.

Selasa berarti Rafi harus membawa miniatur bale lumbung Sasak dari kardus bekas, Naya punya kelas olahraga dan perlu sepatu putih yang semalam belum kering, sementara Sahdan Suaminya biasanya berangkat lebih pagi ke kantornya di Cakranegara karena rapat mingguan.

Di dapur, Nia menyalakan lampu sambil memicingkan mata. Cahaya terasa terlalu terang. Ia mengambil nasi dari rice cooker, memecahkan dua telur, lalu berhenti sejenak ketika lantai seperti bergerak pelan di bawah kakinya.

Tangannya bertumpu di meja.

"Sebentar aja," bisiknya kepada tubuhnya sendiri.

Dari lantai atas terdengar langkah.

Nia sempat berpikir mungkin Sahdan bangun dan akan bertanya kenapa ia pucat.

Yang muncul justru suara suaminya dari tangga.

"Nia, kaus kaki hitamku yang panjang dimana?"

Nia menutup mata sebentar.

"Laci kedua. Paling belakang."

"Ndeq ada."

"Ada. Di bawah kaus kaki abu-abu."

Beberapa detik kemudian suara laci ditutup.

"Oh iya, ketemu."

Tidak ada kalimat lain.

Nia memasukkan telur ke wajan.

Pukul lima tiga puluh, Rafi turun sambil membawa lem kertas yang tutupnya hilang.

"Inaq, kardusnya udah dipotong belum?"

"Udah. Leq meja makan."

"Yang pola atap lumbung?"

"Sudah Inaq print."

"Warnanya?"

"Di kotak biru."

Rafi mengangguk puas, seperti pelanggan yang menerima pesanan tepat waktu.

Lalu ia pergi tanpa melihat wajah ibunya.

Naya turun sepuluh menit kemudian dengan rambut setengah terikat dan ekspresi seperti seluruh rumah sedang membuatnya terlambat.

"Inaq, sepatu putihku masih lembap."

"Inaq sudah taruh depan kipas dari semalam. Coba pakai pengering rambut dua menit."

"Kenapa Inaq ndeq keringin sekalian?"

Kalimat itu diucapkan sambil lalu. Tidak tajam. Tidak kasar. Bahkan Naya tidak menatap ibunya ketika mengatakannya.

Justru karena itulah kalimat itu terasa lebih jujur.

Bagi Naya, ada bagian-bagian hidup yang memang seharusnya selesai sebelum ia menyadari bahwa bagian itu pernah menjadi masalah.

Nia menelan sakit di tenggorokannya.

"Inaq ketiduran jam satu tadi malam."

"Oh."

Naya sudah berjalan ke kamar mandi.

Sahdan muncul dengan kemeja biru tua. Rapi, wangi, siap berangkat. Ia mengambil kopi yang telah dibuat Nia dan menyesapnya sambil membuka ponsel.

"Kopi baru?"

"Nggeh."

"Yang kemarin lebih enak."

Nia menatapnya.

Sahdan baru mengangkat kepala setelah beberapa detik.

"Kenapa?"

"Ndak apa-apa."

Itu kalimat yang paling sering digunakan Nia selama lima belas tahun terakhir.

Ndak apa-apa ketika jahitan bekas operasi melahirkan terasa nyeri tetapi Rafi demam semalaman.

Ndak apa-apa ketika ia membatalkan wawancara kerja karena mertua harus kontrol.

Ndak apa-apa ketika uang tabungannya dipakai menutup cicilan rumah saat Sahdan pindah pekerjaan.

Ndak apa-apa ketika ulang tahunnya dilewati seperti hari biasa.

Ndak apa-apa ketika tubuhnya sakit.

Ndak apa-apa ketika hatinya juga sakit.

Sahdan menyentuh lengan Nia ketika hendak mengambil tas.

Sentuhan singkat itu membuat Nia berharap.

"Nia, nanti tolong transfer uang kas kantor yang kemarin aku titip ya. Aku lupa."

Harapan itu turun lagi, pelan-pelan, seperti benda yang sudah terlalu sering jatuh sampai tidak menimbulkan suara.

"Iya."

"Sama ingetin aku jam dua ada telepon dari bank."

"Iya."

"Makasih."

Sahdan mencium keningnya.

Lalu langsung menarik wajah.

"Kamu panas?"

Akhirnya.

Nia hampir tertawa karena lega hanya gara-gara dua kata itu.

"Kayaknya demam."

Sahdan memandang jam tangan.

"Minum obat ya. Jangan sampai tambah parah. Aku ada rapat penting."

Pintu tertutup tiga menit kemudian.

Nia berdiri sendirian di ruang tengah.

Di meja makan ada tiga piring bekas sarapan, botol minum Rafi yang belum ditutup, tisu yang diremas Naya, dan cangkir kopi Sahdan yang menyisakan lingkaran cokelat di dasar.

Ia memandangi semuanya sambil menahan pusing.

Kemudian ia mengambil piring satu per satu.

Empat bulan setelah pagi itu, Nia akan meninggalkan rumah mereka di Pagutan hanya dengan satu koper, sebuah laptop lama, dan tas kain berisi obat-obatan.

Tidak ada seorang pun di rumah itu yang menyangka.

Termasuk Nia sendiri.

Daftar isi

Aku Tidak Pernah Mengeluh Selama Menjadi Ibu Sampai Hari Itu Aku Menyerah

Lanjutkan membaca semua bab di buku lengkap.

Buka Bab Lainnya

Nyaman menurutmu

Warna halaman

Pengaturan disimpan di browser ini.

Stabilo & Catatan

Catatan disimpan di browser ini. Gunakan akun sebelum membuat catatan yang ingin kamu akses di perangkat lain.

Catatan pada stabilo