← bacavia Cuplikan gratis
Bagikan & dapat komisi

Rekomendasikan buku ini ke temanmu lewat WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya.

Masuk untuk mendapatkan link referral Komisi 10% dari dasar pembagian penjualan setelah biaya pembayaran. Link permanen; referensi per buku tidak kedaluwarsa setelah tersimpan ke akun pembeli. Klik terakhir sebelum pesanan dibuat yang berlaku. Pembelian sendiri tidak menghasilkan komisi. Untuk pembeli yang belum masuk, referensi mengikuti browser yang digunakan sampai tersimpan ke akun.

Gratis · Suara perangkat · Membaca bagian yang terbuka.

Capek Tidak Selalu Berarti Salah Jalan

Bab · Bagian 1 dari 3

Sebelum Kamu Menyimpulkan Bahwa Semuanya Salah

Dari halaman 1 · Baca dengan ritmemu

Ada pagi ketika alarm baru berbunyi sekali, tetapi kamu sudah merasa kalah duluan.

Belum membuka laptop. Belum bertemu atasan. Belum membaca chat pelanggan. Belum masuk kelas. Bahkan mungkin belum benar-benar bangun dari kasur.

Tapi ada satu kalimat yang muncul begitu saja:

"Saya nggak sanggup kalau begini terus."

Kadang kalimat berikutnya datang lebih cepat.

"Kayaknya saya harus berhenti."

Berhenti kerja. Berhenti kuliah. Menutup usaha. Membatalkan proyek. Menghilang dari semua orang. Pindah kota. Ganti hidup. Pokoknya apa saja, asal besok tidak perlu terasa seperti hari ini.

Di saat seperti itu, keputusan besar bisa terasa sangat masuk akal.

Masalahnya, pikiran yang sedang kehabisan tenaga sering membuat dua kondisi yang berbeda terdengar seperti hal yang sama.

"Saya sudah nggak kuat."

Bisa berarti:

"Saya sudah tidak ingin berada di jalan ini."

Tetapi bisa juga berarti:

"Saya sebenarnya masih ingin berada di sini, cuma saya nggak sanggup menjalaninya dengan cara seperti ini terus."

Dua kalimat itu mirip.

Konsekuensinya bisa sangat berbeda.

Bayangkan seseorang yang ingin resign setiap Minggu malam. Ia yakin pekerjaannya adalah sumber semua masalah. Tetapi kalau kita melihat hidupnya lebih dekat, selama dua bulan terakhir ia tidur empat atau lima jam, dua orang di timnya keluar, makan siangnya sering dilewatkan, dan WhatsApp kantor masih berbunyi ketika ia sudah di tempat tidur.

Apakah ia memang salah pekerjaan?

Mungkin.

Tetapi belum tentu.

Sekarang bayangkan orang lain. Ia sudah mengambil cuti. Tidurnya sudah lebih teratur. Bebannya sudah berkurang. Ia sudah mencoba bicara dengan atasannya, mengubah ritme kerja, dan memberi dirinya waktu bernapas.

Tubuhnya lebih pulih.

Tetapi ketika Senin mendekat, bukan cuma capek yang muncul.

Ia merasa hidup yang sedang dibangunnya bukan hidup yang ia inginkan.

Pekerjaannya mungkin tidak buruk. Gajinya bahkan cukup baik. Orang-orang di sekitarnya tidak jahat. Namun setiap kali membayangkan dirinya menjalani pola hidup yang sama tiga atau lima tahun lagi, ada sesuatu dalam dirinya yang berkata, "Bukan ini."

Ia juga berkata:

"Saya capek."

Kalimatnya sama.

Cerita di bawahnya berbeda.

Di sinilah banyak keputusan hidup menjadi rumit.

Kita terlalu cepat menilai arah ketika tubuh sedang habis.

Atau sebaliknya, kita terus menyebut semuanya "cuma capek" padahal setelah berkali-kali pulih, ada bagian dalam diri yang tetap mengatakan bahwa sesuatu memang perlu berubah.

Kita terbiasa mencari jawaban yang sederhana.

Kalau capek, istirahat.

Kalau nggak bahagia, pergi.

Kalau sulit, bertahan.

Kalau bosan, cari tantangan baru.

Sayangnya hidup tidak sesederhana caption satu slide.

Kadang istirahat adalah jawaban.

Kadang batas adalah jawaban.

Kadang bantuan adalah jawaban.

Kadang kita memang perlu mengubah cara.

Dan iya, kadang kita memang perlu mengubah arah.

Tetapi sebelum sampai ke sana, ada satu masalah besar yang perlu dibereskan lebih dulu:

bagaimana kita membedakan semuanya ketika perasaan di dalam kepala sudah campur aduk?

Coba perhatikan sesuatu.

Saat baterai ponsel tinggal satu persen, kita otomatis mengurangi hal-hal yang tidak penting. Kecerahan diturunkan. Aplikasi ditutup. Mode hemat daya dinyalakan.

Anehnya, ketika baterai diri sendiri tinggal satu persen, kita sering melakukan kebalikannya.

Kita membuka semua pertanyaan hidup sekaligus.

"Saya cocok nggak sih di sini?"

"Kenapa hidup saya begini terus?"

"Apa saya gagal?"

"Harusnya saya pindah?"

"Harusnya saya mulai dari nol?"

"Apa selama ini saya salah pilih?"

Lalu kita meminta jawaban paling jernih dari versi diri yang paling terkuras.

Buku ini tidak akan menyuruhmu selalu bertahan.

Buku ini juga tidak akan menganggap pergi sebagai bukti keberanian.

Karena bertahan bisa menjadi keputusan yang sehat.

Pergi juga bisa menjadi keputusan yang sehat.

Yang ingin kita hindari adalah mengambil keputusan yang salah hanya karena kita salah membaca apa yang sedang terjadi dalam diri sendiri.

Ada orang yang hampir meninggalkan sesuatu yang sebenarnya masih ia cintai, hanya karena ia tidak pernah benar-benar beristirahat.

Ada pula orang yang bertahan bertahun-tahun di kehidupan yang sudah tidak ia inginkan, karena setiap kegelisahan selalu ia jawab dengan, "Mungkin saya cuma kurang bersyukur."

Dua-duanya bisa menyakitkan.

Jadi sebelum kita bicara soal bertahan atau pergi, coba simpan satu pertanyaan ini.

Kalau seluruh rasa capekmu hilang besok pagi - badan terasa ringan, kepala lebih tenang, tidur cukup, tidak ada tuntutan mendesak - apakah kamu masih ingin menjalani hidup yang sama?

Jangan jawab terlalu cepat.

Kalau jawabanmu "iya", ada kemungkinan yang perlu diperbaiki bukan arahnya.

Kalau jawabanmu "nggak", jangan juga buru-buru membuat keputusan besar.

Karena bahkan jawaban itu perlu diperiksa.

Yang membuat pertanyaan ini menarik adalah satu hal: banyak orang baru benar-benar tahu jawabannya setelah mereka memahami jenis capek yang sedang mereka alami.

Dan ternyata, capek punya lebih banyak wajah daripada yang kita kira.

Daftar isi

Capek Tidak Selalu Berarti Salah Jalan

Lanjutkan membaca semua bab di buku lengkap.

Buka Bab Lainnya

Nyaman menurutmu

Warna halaman

Pengaturan disimpan di browser ini.

Stabilo & Catatan

Catatan disimpan di browser ini. Gunakan akun sebelum membuat catatan yang ingin kamu akses di perangkat lain.

Catatan pada stabilo