Arga memiliki aturan sederhana untuk pekerjaan setelah magrib: hanya menerima perbaikan yang benar-benar mendesak, tidak berdebat dengan pelanggan soal harga, dan pulang sebelum ayahnya menelepon untuk menanyakan apakah ia masih hidup.
Malam itu ia melanggar ketiganya.
"Kayunya sudah keropos di titik ini," katanya sambil menyentuh kusen. "Sekrup baru saja nggak cukup. Saya pasang pengikat sementara supaya pintunya aman dipakai malam ini. Besok baru dilihat seluruhnya."
Perempuan yang baru pulang itu menyilangkan tangan. Rambutnya disanggul asal dan ada noda saus di ujung kausnya. "Kalau diganti semua, biayanya berapa?"
"Belum tahu sebelum saya ukur."
"Kalau saya jawab asal, besok Mbak marah karena beda."
"Kalau nggak dijawab, sekarang saya marah."
Arga menoleh ke Ratih. "Bu, anak Ibu dulu sekolah debat?"
"Sekolah biasa. Berdebatnya belajar sendiri."
Ratih kembali ke dapur, meninggalkan dua orang yang sama-sama merasa sedang dipaksa bersabar.
Arga berumur tiga puluh satu tahun dan sudah cukup lama bekerja dengan kayu untuk tahu mana retakan yang bisa ditambal dan mana yang hanya tampak kecil karena cat menutupinya. Yang belum ia pelajari adalah bagaimana menyampaikan kabar buruk tanpa membuat pemilik barang merasa barang itu sedang dihina.
Ia mengeluarkan mata bor, menambahkan penguat pada titik kayu yang lebih sehat, lalu memasang kembali engsel. Nara memegangi pintu. Ketika Arga berkata "sedikit angkat", ia mengangkat terlalu tinggi.
"Sedikit, Mbak. Bukan mau dipindahkan ke lantai dua."
"Kalau mau ngomong yang jelas, bisa."
"Saya kira kata sedikit sudah cukup jelas."
Nara menurunkan pintu. Arga menahan senyum yang tidak pada tempatnya.
Setelah selesai, pintu bisa dibuka dan ditutup tanpa menyeret lantai. Ia memeriksa sekali lagi, merapikan perkakas, lalu menyebut biaya perbaikan sementara. Nara mengeluarkan uang dari dompet, tetapi Ratih datang membawa teh hangat dan membayarnya lebih dulu.
"Besok pagi jadi datang?" tanya Ratih.
"Jam delapan kalau Ibu ada."
"Untuk pintu?" tanya Nara.
Arga dan Ratih bertukar pandang singkat, bukan gerakan rahasia yang dramatis, hanya kebiasaan dua orang yang sudah berbicara soal pekerjaan sebelum orang ketiga tiba.
"Untuk bangunannya," kata Arga.
Nara mengira ia salah dengar. "Seluruh bangunan?"
"Ibu minta penilaian kondisi."
Ia menoleh kepada ibunya. "Ibu bilang mau lihat kondisinya. Kok nggak bilang ini orang yang akan ukur?"
"Karena memang baru mau diukur," jawab Ratih. "Kita bicara setelah warung tutup."
Arga menarik ritsleting tas. Ia berusaha tidak ikut masuk ke urusan keluarga pelanggan. Namun matanya sempat berhenti di map berisi foto bangunan dan amplop dengan logo perusahaan properti. Ia tahu jenis pekerjaan semacam ini: kadang orang hendak merenovasi, kadang justru sedang menghitung bagian mana yang sebaiknya tidak lagi diperbaiki.
"Kalau belum siap, saya bisa batalkan besok," katanya kepada Ratih.
Nara cepat menjawab, "Iya, batal saja."
"Kamu belum tahu masalahnya," kata Ratih.
"Justru karena nggak tahu, Bu."
Arga menyela pelan, "Saya tunggu keputusan dari pemilik rumah saja, ya."
Nara menatapnya tajam. Ia tidak suka ada orang asing yang mengetahui sesuatu tentang rumahnya lebih dulu daripada dirinya sendiri. Lebih tidak suka lagi karena kata pemilik rumah membuatnya ingat bahwa namanya memang tidak tercantum pada dokumen kepemilikan apa pun.
Di luar, seorang remaja laki-laki datang dengan motor yang knalpotnya sudah dikenali seisi gang. Rafi, adik Nara, berhenti mendadak saat melihat koper di sudut warung.
"Lho, Kak!" Ia memeluk kakaknya sambil masih memakai helm. "Kok nggak bilang turun hari ini?"
"Biar bisa lihat kamu masih ingat cara peluk orang atau nggak."
"Aku ingat. Yang lupa kamu cara kirim pesan."
Rafi membantu Arga mengangkat kotak perkakas ke motor. "Mas Arga, maaf ngerepotin malam-malam."
"Salah kamu, Raf. Kamu bilang pintunya mau jatuh."
"Kalau sampai jatuh, kakakmu sudah siap menangkap pakai obeng."
Nara mendengar itu. "Masih sempat mengejek, ya."
Arga memasang helm. "Itu observasi lapangan."
Setelah motor pergi, rumah yang biasanya riuh terdengar sempit. Ratih menutup etalase, Rafi menumpuk kursi, dan Nara memandangi pintu biru yang kini menutup rapat.
"Sekarang jelaskan," katanya.
Ratih mengeluarkan tiga lembar kertas dari map. Ia meminta Nara duduk, lalu meletakkan tagihan pinjaman usaha yang selama ini dibayar dari pemasukan warung, catatan biaya perbaikan atap, dan surat minat pembelian rumah yang belum ia tanda tangani.
"Warungnya masih jalan," kata Ratih, "tapi uang yang masuk habis untuk bayar yang lama. Bagian belakang perlu banyak perbaikan. Ibu sudah nggak kuat mengurus rumah sebesar ini sendirian."
"Kenapa nggak bilang? Aku bisa kirim uang."
"Dua bulan lalu Ibu bilang kulkas rusak, kamu kirim uang. Bulan lalu ada biaya tukang, kamu kirim lagi. Sekarang kamu pulang bawa koper tanpa pekerjaan. Ibu harus menunggu apa lagi untuk bilang sebenarnya?"
Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kemarahan. Itu yang membuat Nara sulit menyela.
"Rafi sedang berusaha berdiri sendiri. Ibu nggak mau semua anak Ibu hidup untuk menambal rumah ini."
Rafi menunduk. Nara baru menyadari adiknya beberapa kali menghindari tatapannya sejak ia masuk tadi.
"Surat pembeli ini dari siapa?"
"Pak Bram. Dia ingin memakai sebagian bangunan untuk usaha. Belum ada kesepakatan jual beli. Dia memberi waktu sampai tanggal sepuluh Januari untuk jawaban. Kalau kita menjawab iya, prosesnya baru akan dilanjutkan secara resmi."
Di atas kertas itu tertera tanggal. Sedikit lebih dari sembilan minggu dari sekarang.
"Ibu minta dia memeriksa bagian yang rusak supaya tahu apakah masuk akal kalau kita bertahan. Dia kerja di bengkel Pak Hadi. Rafi yang kenalkan."
Ratih mengusap tepi map. "Ibu sedang mencoba membuat keputusan. Itu beda."
Nara ingin mengatakan rumah itu peninggalan ayah, tempat ia belajar mengeja, tempat ibunya membuka warung sambil menggendong Rafi. Ia ingin mengatakan beberapa tempat tidak boleh dihitung dengan angka. Tetapi matanya menangkap tumpukan tagihan, dan ia ingat bahwa selama bertahun-tahun ibunya memang menghitung angka agar kedua anaknya dapat sekolah.
"Kasih aku waktu," katanya akhirnya. "Aku baru pulang. Biar aku lihat dulu catatannya."
Ratih mengangguk, tetapi tidak menarik kertas penawaran dari meja.
Malam itu, Arga pulang ke rumah ayahnya di Mataram lewat jalan yang basah dan lebih lengang. Di kamar, ia meletakkan tas kerja dekat lemari. Pada dinding tergantung sebuah bingkai kosong bekas gambar rancangan yang telah ia lepas setahun lalu. Ia sudah berniat membuang bingkai itu berkali-kali, tetapi selalu lupa ketika hari pengangkutan sampah tiba.
Ponselnya menyala. Pesan dari nomor yang lama tak menghubunginya muncul: Bima, kawan yang pernah menjadi rekan bisnisnya.
Ada orang nanya kamu masih terima pekerjaan gambar. Aku bilang nggak tahu. Kamu memang sudah berhenti total, Ga?
Arga membalik ponsel tanpa membalas.
Keesokan paginya ia datang tepat pukul delapan. Nara sudah menunggu di depan pintu biru dengan buku tulis, pulpen, dan ekspresi seseorang yang berniat mengawasi semua langkahnya.
"Saya ikut waktu Mas mengukur," katanya.
"Semua dicatat. Kalau rusak, bilang rusak. Kalau masih bisa diperbaiki, jangan dibesar-besarkan."
Arga memandang buku di tangannya. "Boleh saya mulai kerja dulu sebelum diperiksa hasilnya?"
"Bagus. Karena ada satu hal yang perlu dilihat Ibu dan Mbak lebih dulu."
Ia menunjuk garis retak halus pada balok di atas ruang makan. Dari luar, retakan itu nyaris tidak terlihat. Dari dekat, ada bekas lembap memanjang sampai sambungan kayu.
"Bagian ini jangan dipakai menaruh barang berat. Kalau hujan besar, saya mau cek lagi sebelum ada orang duduk di bawahnya."
Nara menoleh ke ruang makan. Tepat di bawah balok itu masih ada meja tempat ibunya biasa menyuapi ayah ketika ayah belum mampu bangun dari sakitnya.
"Kira-kira bisa diselamatkan?" tanyanya.
Arga tidak langsung menjawab. "Yang saya belum tahu, rumah ini mau diselamatkan untuk dipakai seperti apa. Itu menentukan semuanya."