Bab · Bagian 1 dari 3
Tempat yang Tidak Boleh Dipakai
Aku cuma mau menggeser kursi itu sejengkal ketika Nenek memukul punggung tanganku dengan sendok nasi.
Bukan pukulan keras. Nasi yang menempel di sendoknya malah lebih dulu jatuh ke lantai. Tapi bunyinya membuat Tio berhenti mengunyah mentimun, dan Ibu menoleh begitu cepat sampai ujung kerudungnya masuk ke mangkuk kuah.
“Yang itu jangan.”
“Selangnya mau lewat, Nek.” Aku mengangkat kabel kipas yang tersangkut di kaki kursi. “Kalau nggak digeser, nanti orang kesandung.”
“Lewat sebelah sana.”
Sebelah sana berarti memutari meja, melewati lemari piring, dan menambah kemungkinan Tio mencabut kabelnya dengan kaki. Sepupuku itu sudah berhasil merusak satu stopkontak sejak aku tiba kemarin sore. Menurut dia, stopkontaknya memang sudah ingin pensiun.
“Nggak usah pakai kipas,” kata Tio. “Kita bayangkan saja sedang makan di vila. Anginnya alami.”
“Di vila juga orang mandi sebelum makan,” sahut Bude Mira dari dapur.
Tio mencium bahunya sendiri, lalu duduk lebih tegak. “Ini aroma teknisi, Bu. Mahal.”
Aku ketawa. Ibu ikut tersenyum sambil mengelap ujung kerudung. Untuk beberapa detik, rumah itu kembali menjadi rumah yang kuingat: bau bawang goreng, suara tutup panci, dan seseorang yang pasti merasa paling banyak bekerja di dapur.
Lalu Nenek mengambil nasi yang jatuh, membuangnya, dan mengelap tempat yang tadi kupegang.
Kursi di ujung meja itu tidak istimewa kalau dilihat sekilas. Warnanya lebih gelap daripada lima kursi lain. Sandarannya tinggi, dengan takik kecil berbentuk setengah lingkaran di bagian atas. Kaki belakang kirinya disambung kayu pucat yang sudah tidak bisa dibuat sewarna, betapapun sering dilap.
Aku tahu asal takik itu. Waktu sembilan tahun, aku ingin membuat ukiran bulan dengan pisau raut. Bulan buatanku lebih mirip bekas gigitan tikus. Tante Laras menyita pisaunya, memarahiku, lalu mengoleskan obat merah ke jariku sambil tetap ngomel.
Pemilik kursi itu bukan orang asing bagiku.
Justru karena aku ingat orangnya, aturan yang mengelilingi kursinya terasa semakin aneh.
“Nara duduk sebelah Ibu saja,” kata Ibu.
“Bude di mana?”
“Ambil bangku plastik.”
Ada enam orang yang akan makan siang. Ada enam kursi kayu. Tetapi salah satunya harus kosong, sehingga aku mengambil bangku plastik dari kamar mandi dan mencucinya dulu di halaman belakang.
Sudah tujuh tahun keluargaku melakukan perhitungan seperti itu.
Sejak ikut Ibu pindah ke Bandung waktu umur sepuluh, aku memang tidak lagi datang setiap minggu. Liburan sekolah berubah menjadi kunjungan tiga hari. Setelah kuliah, tiga hari berubah menjadi Lebaran. Dua tahun terakhir aku cuma mampir sebentar, selalu dengan alasan tiket kembali dan pekerjaan.
Sekarang aku dua puluh tiga, membawa koper yang rodanya patah, dan punya jauh lebih banyak waktu daripada yang kuakui kepada mereka.
“Laptopmu jangan ditaruh dekat sambal,” kata Ibu ketika aku kembali. “Nanti kerjaannya kena.”
Laptopku ada di meja kecil dekat jendela. Layarnya menampilkan lembar kosong berjudul Daftar Barang Rumah Salatiga. Di tab lain, yang sudah kututup sebelum Ibu datang, ada surel penolakan lamaran kerja.
“Aman, Bu.”
“Katanya hari Minggu juga ada revisi?”
“Iya. Sedikit.”
Tio, yang dua tahun lebih tua dariku, menatapku sebentar. Dia satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu kontrak kerjaku di Jakarta sudah berakhir sebulan lalu. Aku sendiri yang memberitahunya, setelah dia melihatku menghitung harga tiket bus dan bertanya kenapa karyawan yang sedang sibuk mengambil perjalanan paling murah.
Pakde Bagas datang membawa kerupuk dalam kantong besar. Dia selalu tiba saat makanan sudah berada di meja, lalu menyumbang sesuatu yang bunyinya paling ramai.
“Ini kerupuk langganan Bapak,” katanya kepada Tio. “Bukan yang seribu dapat angin.”
“Kalau yang ini berapa persen anginnya?”
“Kalau nggak mau, jangan dimakan.”
Tio langsung mengambil dua.
Kami berdesakan di sisi meja yang tersedia. Kursi di ujung dekat jendela tetap kosong. Tidak ada piring di depannya, tetapi Nenek menaruh mangkuk kecil sambal terasi di sebelahnya sebelum memindahkannya lagi ke tengah.
Gerakannya pendek sekali. Barangkali kebiasaan. Aku belum punya alasan untuk menganggap semua gerakan Nenek menyimpan sesuatu.
Sayur beningnya terlalu asin.
Ibu menambah nasi. Bude Mira mengambil air minum. Tio mencelupkan ujung sendok, diam, kemudian berkata, “Nek, ini sayur atau persiapan mengawetkan cucu?”
Nenek mendengus. “Tadi nenekmu mikir genteng.”
“Berarti garamnya satu sendok buat bayam, dua sendok buat genteng.”
Kali ini Pakde juga tertawa.
Pembicaraan soal rumah dimulai setelah ayam tinggal tulang. Nenek ingin pindah ke tempat yang lebih kecil. Bukan karena kami baru saja menemukan penyakit mengerikan atau karena rumah ini akan disita. Dia capek naik turun tangga untuk mengambil kain, capek memanggil orang setiap talang bocor, dan mulai membenci halaman belakang yang dulu dia pertahankan mati-matian.
“Rumputnya tumbuh lebih rajin daripada anak-anak datang,” katanya.
Pakde pura-pura sibuk melipat kantong kerupuk.
Aku diminta membantu memotret rumah, mendata barang, dan menemani orang yang datang melihat. Pekerjaan yang masuk akal bagi cucu yang mengaku bisa bekerja dari mana saja.
“Orang dari agen datang Selasa,” kata Pakde. “Foto dulu. Nanti akhir pekan ada yang mau lihat.”
“Yang lihat boleh. Yang pegang-pegang lemari jangan,” kata Nenek.
“Rumahnya mau dijual, Nek,” sahutku.
“Lemarinya belum tentu.”
Aku membuka daftar barang di ponsel. “Meja makan ikut dijual?”
“Terlalu besar untuk kontrakan,” kata Ibu.
“Belum diputuskan,” kata Nenek.
“Kursi?”
“Lima.”
Aku menatap ujung meja. Pakde mengempaskan punggung ke sandaran.
“Bu, kursi itu mau dibawa ke mana? Rumah baru saja belum pasti.”
“Bisa disimpan dulu.”
“Disimpan untuk siapa lagi?”
Sendok Ibu berhenti di atas piring. Bude Mira mengangkat mangkuk sayur, padahal masih ada setengah isinya.
“Sudah,” kata Ibu. “Makan dulu.”
“Kita ini sedang ngomong barang, Tih. Kalau semua barang nggak boleh disentuh, rumahnya nggak akan kosong.”
Nenek menatap Pakde tanpa berkedip. “Yang lain boleh. Itu jangan.”
Aku mestinya berhenti. Di keluarga kami, orang dewasa punya cara mengatakan berhenti tanpa menyebut namaku: mendadak menanyakan nasi, menyalakan televisi, atau memanggil seseorang ke dapur. Hari itu ketiganya hampir terjadi bersamaan.
“Tante Laras tahu rumahnya mau dijual?” tanyaku.
Bude Mira meletakkan mangkuk terlalu dekat ke tepi. Tio menariknya ke tengah.
“Nomornya sudah nggak bisa,” kata Ibu.
“Sudah dicoba lagi?”
“Na.”
“Kalau kursinya masih disimpan buat dia—”
“Orangnya nggak akan pulang,” potong Pakde. “Jangan bikin nenekmu berharap terus.”
Aku memandangi kursi itu. “Terus buat apa?”
Tak ada yang menjawab.
Dulu, saat aku enam belas, aku diberi penjelasan yang terasa lengkap. Tante Laras memakai uang usaha katering Nenek untuk membuka bengkel furnitur bersama seseorang. Usahanya gagal bahkan sebelum berdiri. Uang pelanggan terpaksa ditutup keluarga. Ibu memakai tabungan yang sebagian disiapkan untuk pendidikanku.
Sesudah itu Tante pergi.
Aku marah dengan kesungguhan yang hanya bisa dimiliki anak enam belas tahun. Aku mengirim pesan panjang. Bagian yang paling kuingat justru kalimat paling pendek.
Aku nggak punya tante yang nyolong.
Lalu aku memblokir nomornya.
Orang-orang dewasa tidak memintaku membuka blokir itu. Mereka bilang aku sedang terluka dan sebaiknya fokus sekolah.
Sekarang, tujuh tahun kemudian, mereka masih meminta hal yang hampir sama.
Bude Mira membawakan teh. Ibu bertanya apakah aku ingin kamar atas atau kamar bekas Tante Laras. Tio mulai mengeluhkan sinyal. Makan siang selesai tanpa jawaban, tetapi aku melihat Pakde menyingkirkan bangku plastik dengan tendangan kecil ketika berdiri. Bangku yang kupakai, bukan kursi kosong itu.
Sorenya, Nenek memberiku kunci lemari bawah tangga.
“Buku-bukumu ada situ. Pilih yang mau dibawa. Jangan nanti tukang angkut datang kamu nangis karena gambar kucing hilang.”
“Itu harimau, Nek.”
“Dari dulu kamu bilang begitu.”
Di dalam lemari ada rapor, tas piknik, dan tiga kardus bertuliskan namaku. Ibu berdiri sebentar di belakangku, memastikan aku tidak membuang ijazah. Setelah itu dia naik untuk membereskan sprei.
Aku membuka kardus paling kecil. Buku gambar kelas sebelas. Piagam lomba yang tidak pernah kumenangi karena hanya sampai tahap peserta. Map plastik hijau yang karetnya sudah meleleh.
Sebuah amplop jatuh dari dalam buku gambar.
Namaku tertulis di depannya, diikuti alamat rumah ini. Di sudut kiri bawah ada nama yang bisa kukenali bahkan sebelum kubaca seluruhnya.
Laras.
Cap posnya bertanggal 20 November 2019.
Dua bulan sesudah Tante pergi. Dua bulan sesudah orang-orang mengatakan dia tidak pernah memberi kabar lagi.
Aku membalik amplop itu.
Tutupnya sudah disobek dengan rapi.